Merasa bangga menjadi anak Abraham?
Orang-orang Yahudi menyangka bahwa sebagai keturunan Abraham mereka mempunyai hak istimewa di hadapan Allah, sehingga Allah akan bersikap lunak terhadap pelanggaran mereka. Pengertian seperti ini  menumpulkan kepekaan hati nurani serta melemahkan upaya mereka untuk hidup benar di hadapan Allah. Selain itu juga membuat mereka lupa untuk menjadi penyalur berkat Tuhan.

Mengapa Tuhan sedemikian memperhatikan keberadaan mereka, mengapa Tuhan memilih mereka? Sebab Tuhan mempunyai rencana besar atas mereka, yaitu mengutus mereka di antara bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa untuk memperkenalkan Allah yang hidup dan berkarya itu, supaya pada akhirnya di dalam Yesus Kristus dunia ini diselamatkan!

Sungguh ironis bahwa Yohanes  menegur keturunan Abraham itu dengan kata-kata “Hai kamu keturunan ular beludak!” (Bukan keturunan Abraham). Lebih jauh ia menegaskan bahwa Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu! Di sini Yohanes  mau mengingatkan bahwa:
1. Allah tidak bergantung dari manusia dalam mewujudkan rencanaNya untuk menyelamatkan dunia.
2. Menjadi bangsa pilihan, atau menjadi umat Allah sebenarnya hanya anugerah semata. Bukan oleh karena pertimbangan jasa apapun di hadapan Allah. Juga bukan karena mereka adalah bangsa yang terbaik. Mereka malah disebut Allah sebagai bangsa yang  tegar tengkuknya (Keluaran 32:9). Jika kepada bangsa yang seperti itu saja Allah dapat mengasihi, berarti Ia juga sanggup mengasihi semua bangsa dan manusia di seluruh dunia ini!

Dua butir di atas tadi rasanya perlu kita camkan baik-baik. Sebab dalam hidup bergereja kadang kita juga merasa mempunyai peranan yang sedemikian pentingnya, kita menyangka bahwa kedudukan kita tidak dapat digantikan oleh orang lain. Dengan demikian kita merasa telah memiutangi Tuhan! Begitu pula sebagai gereja Yesus Kristus atau “Israel Baru” di tengah dunia ini terkesan  kita lebih menitik beratkan rasa bangga, daripada rasa syukur yang mendorong hati untuk memberkati sesama kita.

– daud adiprasetya

lanjut…