BETEL: RUMAH ALLAH
Amazia juga menegaskan bahwa Betel adalah tempat kudus raja dan bait suci kerajaan. Padahal, Betel semula berarti ”rumah Allah”! Amazia telah mengubah ”rumah Allah” menjadi ”rumah raja”.

Marilah kita bertanya—berkait tempat ibadah: ”Masihkah Betel berarti ’rumah Allah’ bagi kita?” Dengan kata lain: ”Apakah kita masih memahami gereja sebagai ’rumah Allah’ atau ’rumah manusia’? Siapa yang paling berkuasa dalam gereja: Allah atau manusia?”

Lebih jauh lagi, apakah kita memahami Betel ’rumah Allah’ sebagai suatu lokasi? Bukankah dunia sesungguhnya merupakan pentas kemuliaan Allah? Itu berarti kita tidak mungkin melokalisasi atau mengurung Allah dalam suatu tempat.

Dunia ini sesungguhnya rumah Allah; milik Allah. Manusia hanyalah orang-orang yang dipercaya mengelola rumah Allah itu. Dunia sejatinya merupakan tempat kehendak Allah terlaksana.

Jika kita memahami bahwa dunia adalah rumah Allah, maka menjalani kehendak Allah di rumah-Nya merupakan tindakan logis. Kita harus mengetahui kehendak Allah dan mematuhinya. Tak ada jalan lain!

BERSUARA MESKI TAK DIDENGAR
Kala diusir Amazia, Amos menjawab: ”Aku bukan nabi karena jabatan. Sebenarnya aku peternak dan pemetik buah ara.  Tapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaanku, dan menyuruh aku menyampaikan pesan-Nya kepada orang Israel.” (Amos 7:14-15, BIMK).

Amos bukanlah nabi karena jabatan. Mulanya dia seorang petani. Namun, Allah menyuruhnya menjadi pembawa pesan-Nya. Sebagai penyampai pesan, Amos tidak berkehendak mengorupsi pesan. Dia menyampaikan pesan itu apa adanya. Dia tidak ingin menyampaikan apa yang enak didengar telinga.

Amos hanyalah penyampai pesan. Oleh karena itu, dia tetap bersuara meski tak didengar!

Bagaimana dengan kita?

– yoel m. indrasmoro