GEMBALA SEJATI
Dalam mazmurnya, Daud memperlihatkan sikap dan tindakan Allah sebagai gembala. Dalam pandangan Daud, Gembala Sejati senantiasa mencukupi kekurangan domba-domba-Nya—baik jasmani maupun rohani. Daud mengaku: ”TUHAN bagaikan seorang gembala bagiku, aku tidak kekurangan.” (Mazmur 23:1, BIMK).

Para pemimpin masa kini, yang dipercaya Allah memimpin umat-Nya, perlu meneladani sikap dan tindakan Gembala Sejati. Mencukupi kekurangan umat bisa dijadikan semboyan hidup kepemimpinan.

Kekurangan tentu bisa beragam bentuknya— tunaaksara, tunabusana, tunadaksa, tunagizi, tunakarya, tunasosial, tunasusila, tunapolitik, tunawisma, dan masih banyak lagi. Intinya: tunakasih dan tunapengharapan. Para pemimpin masa kini perlu belajar dari Yesus, Sang Guru, untuk lebih peka terhadap orang yang dipimpinnya.

Penulis Injil Markus mencatat: ”Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34).

Tak hanya itu. Yesus pun akhirnya memberi makan orang banyak itu. Semuanya itu bersumber dari hati penuh kasih. Dan hati penuh kasih itu digerakkan oleh satu kegiatan fisik: melihat.

Yesus melihat. Guru dari Nazaret itu tidak menutup mata. Mata-Nya senantiasa terbuka. Keterbukaan mata itulah yang membuat-Nya mampu memahami keadaan orang banyak itu. Kepedulian biasa berawal dari keinginan untuk senantiasa membuka indra penglihatan.

Yesus melihat; bahkan melihat lebih dalam. Dia tidak langsung menutup mata setelah menyaksikan keadaan orang banyak itu. Dia tetap ingin membuka mata-Nya.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…