”Sangkamu orang-orang Galilea  ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang  lain, karena mereka mengalami nasib itu?” (Luk. 13:2).

Demikianlah tanggapan Yesus mengenai orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur oleh Pilatus dengan darah kurban mereka sendiri. Ada beberapa orang Galilea yang dibunuh tentara, berdasarkan perintah Pilatus, sewaktu mempersembahkan kurban di Bait Allah. Tak hanya dibunuh, darah korban dicampur dengan darah kurban yang hendak dipersembahkan di Bait Allah.

MALAPETAKA: HUKUMAN ALLAH?
Pilatus, menurut Stefans Leks, senang menghina bangsa Yahudi pada setiap kesempatan, merampas milik mereka, memperlakukan orang Yahudi seenaknya, dan membunuh tanpa perasaan. Sang Gubernur akhirnya dipecat Kaisar karena membantai sejumlah orang Samaria di Gunung Gerizim.

Para sejarawan menduga, orang-orang itu adalah pejuang Zelot yang bermarkas di Galilea. Siapa pun mereka, kematian itu mengenaskan dan membuat orang bertanya: ”Mengapa?”

Masyarakat Yahudi, juga masyarakat Indonesia masa kini, beranggapan bahwa malapetaka merupakan hukuman Allah. Kematian yang tak wajar dianggap sebagai hukuman Allah.

Yesus memerintahkan para muridnya untuk tidak begitu menilai kejadian mengerikan itu sebagai hukuman Allah. Itu namanya penghakiman dan pasti ketidakadilan. Sudah jadi korban, kok masih dihakimi!

Mungkin ada kaitannya. Allah bisa menjadikan sebuah peristiwa sebagai hukuman. Tetapi, para murid dilarang mengaitkan seluruh peristiwa naas dengan hukuman Allah.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…