Pertama, Mengapa penduduk desa tidak memilih untuk menolak dengan tegas ketika ditawari insentif, sebab memerangi tikus adalah untuk kepentingan mereka sendiri?

Kedua, Mengapa Kepala Desa tidak memilih cara yang sehat, yaitu menyadarkan penduduk dan memberi dorongan kepada mereka untuk melestarikan kemakmuran desa?

Ketiga, Dalam keadaan yang sangat memperihatinkan itu bagaimana mungkin bisa muncul segelintir orang yang memilih untuk beternak tikus daripada menanam padi? Mereka yang malas, egois dan rakus seperti tikus itu patut ditegur keras atau dihukum.

Musa seperti Kepala Desa yang menghadapi wabah tikus?
Memang sama-sama sebagai pemimpin, tapi kepemimpinan Musa jauh lebih mantap tentunya. Dia memimpin sebuah bangsa yang besar, umat yang dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui perjalanan panjang 40 tahun lamanya. Jika Kepala Desa tadi kebingungan menghadapi tikus-tikus ganas yang tersebar ke segala pelosok desa, maka Musa lain lagi. Dalam matanya Musa melihat nasib bangsanya yang penuh teka-teki, bangsa besar yang belum mempunyai sejengkal tanah untuk dihuni itu, akan hidup atau mati? Musa sendiri sudah tahu bahwa ajalnya tak lama lagi, tapi dia akan hidup bersama Tuhan di sorga, bagaimana dengan umat dan bangsa yang ia kasihi seperti anaknya sendiri ini? Jika ditinggal pergi nanti, akankah mereka itu bertahan sebagai umat Tuhan? Sebab begitu seringnya mereka itu berpaling dari Tuhan dan terpikat kepada ilah lain.

– daud adiprasetya

lanjut…