Pelajaran apa yang dapat kita ambil?

Pertama, Jika kita menjadi seorang pemimpin; dalam keluarga, dalam jemaat, kantor dan di manapun, upayakan untuk dapat menyatu dengan mereka yang kita pimpin serta memperjuangkan kepentingan mereka dengan penuh ketulusan hati.

Kedua, Tingkatkan terus kecerdasan memilih yang memberi “hidup” daripada yang membawa  “kematian”. Ingat, kalau-pun kita tidak mau memilih, maka itu sudah berarti memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.

Tetap masih harus memilih, meski sudah memilih
Orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti Yesus saat itu tidak secara otomatis sudah menjadi murid-Nya. Jika ingin menjadi murid-Nya maka mereka harus membenci keluarga dekatnya bahkan nyawanya sendiri.

Sudah jelas bahwa di sini, Tuhan Yesus tidak sedang menganjurkan untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, terhadap keluarga dan hidup kita. Dia hanya mau menekankan bahwa murid-Nya harus memiliki kasih yang kuat kepada Yesus Kristus. Barang siapa mau menjadi murid-Nya maka ia harus mengutamakan persekutuan secara pribadi dengan Yesus, melebihi apa dan siapapun dalam hidupnya. Karena di dalam Yesus Kristuslah terdapat segala sesuatu yang terbaik. Termasuk pelajaran-Nya mengenai bagaimana seharusnya sikap kita terhadap anggota keluarga, yang menjadi sesama terdekat dan terhadap diri sendiri.

Setiap kali diperdengarkan Firman-Nya ini berarti panggilan-Nya sedang ditujukan kepada yang mendengarnya. Panggilan Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya ini seharusnya kita tanggapi dengan penuh rasa syukur, sebab merupakan peluang emas untuk ditindaklanjuti, misalnya dengan mengikuti kateksasi lalu menerima sakramen Baptis Kudus. Mengikuti Pemahaman Alkitab, terjun dalam kegiatan gerejawi dan seterusnya.

– daud adiprasetya

lanjut…