Saat Kristus merangkul orang-orang berdosa
Reaksi yang keras segera muncul dari pihak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka menjadi gusar sebab menilai sikap Tuhan Yesus berlebihan. Penerimaan Yesus yang disertai dengan makan bersama dengan orang-orang berdosa itu dianggap tidak pas dan “memanjakan” sampah masyarakat, yang sebaiknya diabaikan atau dibuang saja. Mereka berpendapat bahwa para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang hidupnya cemar itu sudah sepantasnya kalau di hukum dengan cara dikucilkan, direndahkan, terlebih oleh Yesus yang diakui masyarakat sebagai seorang Guru.

Dengan kecaman terhadap sikap Tuhan Yesus itu, mereka mau menunjukkan bahwa taraf kerohanian mereka di atas Tuhan Yesus. Tetapi sikap mereka juga menunjukkan bahwa sama sekali tidak mengasihi orang berdosa, mereka merasa jijik dan menutup pintu bagi pertobatan umat tersesat yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Dari sini kita mengetahui bahwa sikap Yesus bisa menjadi ukuran dalam hidup kita. Bila kita sampai tidak bisa menyetujui tindakan Nya, maka hal itu menunjukkan bahwa pasti ada yang tidak beres dalam hati kita. Bila tiap-tiap kali ada kecocokan di antara kita dengan sikap Tuhan Yesus, berarti iman kita sehat dan moral kita selaras dengan kehidupan-Nya yang selalu kita teladani itu.

Satu di antara seratus
Jumlah yang besar ditinggalkan hanya untuk bisa menemukan kembali jumlah yang sangat kecil. Bukan karena jumlah yang kecil itu lebih berharga dan istimewa, tetapi karena memikirkan nasib mereka yang tersesat dan terhilang itu. Karena membiarkannya, berarti menyetujui kebinasaannya, hal itu menjadi pantangan terbesar dalam hidup ini. Demikianlah setiap manusia berdosa di mata Yesus, dan di dalam hati sang Gembala Agung itu. Yesus memiliki hati yang berbelas kasihan, sehingga tidak menjadi masalah bagi-Nya, sejelek apakah domba yang terhilang itu. Yesus memiliki hati yang ingin mencari terus sampai dapat, tak peduli sesulit apakah medan yang dihadapi-Nya. Yesus memiliki hati yang rela berkorban, demi keselamatan domba kesayangan-Nya. Dan akhirnya, pada Yesus juga ada sukacita sorgawi, saat berhasil memeluk permata hati yang diketemukan kembali.

Kalau begitu kasih Yesus adalah kasih yang istimewa, kasih satu di antara seratus, bahkan lebih, dan satu-satunya di muka bumi ini. Kasih-Nya yang sangat besar itu patut dikenalkan kepada setiap orang berdosa, sebab mampu mengampuni dosa sebesar apapun yang di miliki pendosa kaliber kakap. Di sini ada satu cerita menarik yang dapat mendorong kita untuk memperkenalkan kasih Yesus:

– daud adiprasetya

lanjut…