Alkisah, pada suatu waktu hiduplah seorang cerdik cendekia yang mengetahui apa saja yang terjadi di muka bumi ini. Kepandaiannya membuat pihak istana tertarik dan menjadikannya sebagai salah seorang penasehat kerajaan. Merasa sudah menjadi orang besar, lama kelamaan ia menjadi sombong dan mulai memandang rendah orang lain. Hingga suatu saat, sang penasehat ingin pergi berlibur menyusuri sungai di negeri itu. Disewanya sebuah perahu dan seorang nelayan yang mendayung.

Oleh karena sombong, si penasehat ingin memamerkan pengetahuannya di hadapan si nelayan. Ketika berada di tengah sungai, si penasehat mengambil kanvas dan mulai melukis keindahan alam yang terhampar di hadapannya. Sang penasehat bertanya kepada nelayan, “Tahukah kamu nelayan, bagaimana melukis dengan kuas yang ujungnya lembut seperti ini?” Si nelayan yang pada dasarnya tidak berpendidikan namun jujur, menjawab dengan polos, “Saya tidak pernah belajar melukis, Tuan.”  Penasehat tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban si nelayan, dan berkata,”Jelas saja kau tidak bisa melukis. Hanya orang terpelajar yang mampu menguasai hal itu. Jika engkau tidak bisa melukis, berarti engkau telah menyia-nyiakan 2/5 hidupmu.”  Si nelayan sakit hati mendengar hinaan penasehat, namun ia diam saja dan tetap mendayung.

Kemudian, sang penasehat berhenti sejenak dari kegiatan melukisnya, berdiri dan mulai berpuisi mengenai keindahan tempat itu dengan bahasa kiasan. Nelayan itu bertanya,”Apa arti semua yang Tuan katakan tadi, saya tidak mengerti sama sekali.”  Penasehat menertawakannya, lalu menjelaskan,”Saya mencoba mengekspresikan perasaan saya mengenai keindahan tempat ini. Jika kamu tidak bisa berpuisi, kamu telah menyia-nyiakan 3/5 hidupmu,” kata si penasehat dengan congkaknya.

Selesai berpuisi, penasehat mengeluarkan sebuah alat hitung dan mulai mempergunakannya. Nelayan bingung melihat alat tersebut dan bertanya,”Tuan, alat apakah itu?” Dengan muka seakan tidak percaya, si penasehat berkata,”Apa, kamu tidak pernah melihat alat ini? Ini adalah alat hitung yang banyak digunakan orang-orang kaya untuk berdagang. Sungguh, kamu telah menyia-nyiakan 4/5 hidupmu karena tidak tahu alat ini.”

Perahu itu mulai memasuki bagian sungai yang deras, dan tiba-tiba ada batang pohon besar yang jatuh melintang di tengah sungai. Si nelayan berusaha menghindar namun ternyata kurang cepat, sehingga bagian bawah perahu itu robek. Air mulai masuk ke dalam perahu. Nelayan cepat-cepat melompat keluar dan berenang ke tepi, lalu naik ke daratan. Dari situ, dia berteriak kepada penasehat yang masih berada di tengah, “Apakah Tuan bisa berenang?” Penasehat berteriak,”Tidak! Tapi saya tahu mengapa perahu ini terbalik.Itu karena tadi kamu terlambat menghindar, bodoh.”

“Baiklah Tuan Penasehat,” tukas si nelayan lagi. “Mungkin saya telah kehilangan 4/5 hidup saya karena tidak memiliki kepandaian seperti Tuan. Namun saya masih memiliki 1/5 lagi, yaitu kemampuan untuk berenang. Sebaliknya, Tuan memiliki kepandaian yang hebat, namun melupakan satu hal, yaitu kemampuan  untuk menyelamatkan diri. Maka habislah hidup Tuan seluruhnya karena hal ini.” Sang penasehat masih berteriak-teriak memaki si nelayan di tengah sungai yang deras, dan perlahan tapi pasti tubuhnya mulai tenggelam ke dasar sungai. ( Diangkat dari  Success Journey ).

daud adiprasetya

lanjut…