Sore itu di jam pulang kantor, kereta api yang aku tumpangi bergerak dari stasiun Parramatta menuju Sutherland, Sydney. Bersyukur aku masih mendapat tempat duduk. Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat, tubuhku terasa lemas, tenaga serasa terkuras selesai wawancara kerja dari pagi jam sebelas hingga jam satu siang di Castle Hill—yang jarak tempuhnya ke Parramatta dua jam lebih dengan bis.

Aku menghela nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelahan, duduk bersandar,  mengendorkan otot-otot kaki dan badan, berusaha menyiapkan diri untuk menghadapi wawancara kerja sebentar malam di Sutherland. Namun suara cecaran pertanyaan tajam salah satu pewawancara tadi memenuhi benakku, bercampur suara protes keras di batinku tak terima hak-hakku dilanggar… gemuruhnya seolah mengalahkan gelegar canda tawa para pelajar yang berdiri berdesakkan di depan tangga di dalam kereta dua tingkat itu. … Air mata mulai merebak di mataku… .

Dari tempat dudukku di deretan sebelah kiri itu, aku melayangkan pandanganku ke jendela sebelah kanan, menembusi bagian atasnya yang terbuka, terlihat langit berwarna lembayung… Awan yang berarak-arakan tertimpa sinar matahari yang akan terbenam… Hmmm… cantik!…  Seketika kelelahan dan ketegangan terasa mereda bersamaan dengan luruhnya kemarahan di dalamku. Dengan pelahan aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelahan… “Terima kasih untuk alam indah ciptaan-Mu ya Tuhan,” bisikku kepada-Nya di hati, air mataku meleleh pelan… tenteram.

:) Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis. 

eva kristiaman