Tulisan-tulisan di “Spirit Ramadhan” Jawa Pos, menarik dan selalu saya nantikan. Selain menjadi lebih paham tentang arti puasa bagi saudara-saudara Muslim, saya juga dapat mengenal pandangan dan pendapat para penulis, yang sekaligus tokoh Muslim dari berbagai aliran.

Ada tulisan-tulisan yang mengena dan dekat rekat dengan kehidupan bangsa masa kini, saya mengirim sms himbauan ke rekan-rekan Nasrani untuk membacanya. Sambutannya? Ternyata cukup banyak juga yang sering membaca “Spirit Ramadhan”. Bahkan ada beberapa rekan yang pagi itu sudah baca, dan mengatakan artikel tersebut bagus sekali. Ada pula Pemred majalah nasrani minta agar saya menghubungi penulisnya, untuk menulis di majalahnya. Wow…

Saya berpikir, kalau kami yang non-muslim sangat tertarik membaca artikel-artikel “Spirit Ramadhan”, apakah rekan-rekan Muslim juga tertarik untuk membaca pandangan tentang puasa dari pandangan non-muslim? Apakah ini bisa dijadikan semacam berbagi lintas kepercayaan dengan tema yang sama? Apakah ini bisa dianggap sebagai kegiatan saling mengisi? Apakah saya telah berpikir terlalu jauh dan muluk? Akhirnya tanpa melanjutkan berpikir dengan “apakah-apakah” lainnya, saya mulai membuka lap-top dan mulai mengetik. Lakukan saja…

Puasa bagi kaum Nasrani dilakukan secara variatif. Secara normatif, tidak ada penjelasan detail dalam Alkitab tentang bagaimana harus berpuasa makan dan minum. Ketentuan kapan dan harus berapa lama periode puasa juga tidak pernah dijumpai di Alkitab. Ada aliran/denominasi gereja yang melakukan puasa dengan tidak makan dan tidak minum selama 12 jam. Ada pula yang melakukan dengan rela dan ikhlas berpuasa hal-hal yang disenanginya, misalnya: berpuasa merokok, berpuasa tidak makan nasi dan daging, berpuasa tidak nonton televisi dan lain sebagainya. Semuanya dijalankan dalam kurun waktu tertentu, bisa 40 hari seperti yang Yesus Kristus pernah lakukan, bisa genap sebulan, ada pula yang melakukan bersamaan waktu puasa kaum Muslim. Tergantung kesepakatan umat itu sendiri. Apakah ada dasar Alkitab tentang puasa?

Kitab Nabi Yesaya pasal 58, dalam Alkitab adalah tulisan terlengkap tentang makna puasa bagi kaum Nasrani. Walaupun termasuk kitab Perjanjian Lama (zaman sebelum Yesus Kristus dilahirkan), kitab ini sering dikutip untuk menuntun umat di masa kini dalam berpuasa. Ditulis sekitar 700-680SM, cukup kuno tetapi relevansinya dengan hidup kekinian bangsa ini masih sangat terasa, apalagi dengan kondisi kehidupan bangsa kita yang dirundung berbagai masalah.

Di ayat 6, Tuhan menyatakan gaya puasa yang dikehendaki-Nya. “Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk*, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.” (*kuk adalah kayu melengkung yang ditaruh di tengkuk kerbau, untuk menarik bajak, pedati dsb). Pelaku puasa mewujudkan tindakan nyata kepada sesama manusia dalam hal membongkar kelaliman, dan menolong memerdekakan mereka yang teraniaya. Memerangi kelaliman, memerangi kesewenang-wenangan, mematahkan pengendalian penghidupan orang lain secara tidak sah.

Ayat 7 tertulis, Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” Pelaku puasa diminta berbagi dengan orang papa dalam hal sandang, pangan, papan, dan pendampingan terhadap saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Kalau berbagi sandang, pangan dan papan merupakan bentuk perhatian secara fisik—jasmani; maka pendampingan berbentuk non-fisik adalah perhatian dan atau tindakan nyata, terhadap saudara-saudara kita yang memerlukan tambahan ilmu pengetahuan, ide-ide bisnis, pelajaran sekolah, bantuan hukum, pencerahan, konsultasi dan lainnya. Sebelas duabelas dengan zakat, bukan? Bukankah para penulis “Spirit Ramadhan” juga telah membagikan kekayaan intelektualnya kepada pembaca Jawa Pos dari segala golongan? Apalagi bila dilakukan dengan sukarela pada bulan Ramadhan, pahala berlipat telah menanti. Sungguh indah.

-yahya djuanda

lanjut…