Intisari puasa dan tindakan yang dikehendaki Tuhan dalam kitab Nabi Yesaya bisa  disimpulkan demikian:

Pertama, aktif dalam berbagai bentuk perlawanan terhadap: ketidakadilan, perampasan hak-hak rakyat kecil, kejahatan yang dilakukan oleh penguasa atau pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah (kelaliman). Kalau ditarik ke ranah negeri ini, maka perjuangan terwujud dalam kesetaraan di depan hukum, anti korupsi dan suap-menyuap, anti penindasan dan kesewenang-wenangan. Berjuang dengan perbuatan-perbuatan.

Kedua, mengekang, membatasi diri terhadap hal-hal yang kita ingini dan sudah kita miliki. Yaitu dengan cara membagikannya. Berkorban, merelakan apa yang menjadi hak dan kesenangan kita menjadi milik orang lain. Berkorban tidak hanya materi, tetapi juga perasaan, waktu dan tenaga kita untuk orang lain. Tidak peduli apa latar belakang mereka.

Menolong sesama yang tertindas, tersisihkan, terabaikan hak-haknya, tidak mendapatkan keadilan, terbelakang secara pendidikan, dan juga pertolongan secara fisik kepada kaum papa. Jangkauan puasa begitu luas mencakup dan meliputi setiap aspek kehidupan manusia. Kita jadi berani berandai-andai, andai ini dilakukan oleh perseorangan, oleh kelompok kecil masyarakat, oleh kelompok yang lebih besar, apa jadinya lingkungan masyarakat kita? Suasana damai dan saling tolong-menolong yang telah mulai pudar, akan tampak lagi bersinar, bahkan hidup di tengah masyarakat.

Andai ini dilakukan oleh negara dan para pemimpin bangsa/masyarakat, apa jadinya? Sungguh suatu kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan keadilan akan merekah dan menebar harum di tengah masyarakat.

Saya teringat suatu episode Kick Andy yang mengundang A-hok (Basuki T. Purnama), mantan Bupati Belitung Timur 2005-2007 (Prov. Bangka Belitung), sekarang anggota DPR dari Partai Golkar. Saat menjadi bupati, dia berhasil membebaskan uang sekolah sampai tingkat SMA sekabupaten Belitung Timur, memberikan pelayanan kesehatan gratis, membangun jalanan mulus sampai ke pelosok daerah. Dia juga sangat anti suap dan berhasil memotong biaya belanja proyek sampai 20%. Oleh sebab itu dia punya anggaran lebih untuk menyejahterakan rakyatnya. Ahok, sosok pemimpin yang dicinta masyarakat dan saat dia maju sebagai calon anggota DPR dalam pemilu 2009, modalnya adalah perbuatan baik kepada masyarakat dan nama baik. Bukan pencitraan dan modal uang politik yang harus dikembalikan kelak.

-yahya djuanda

lanjut…