Sesudah di bawah kasih karunia, mau enaknya sendiri?

Tuhan Yesus sudah menebus kita dan sekarang kita tidak lagi dibayang-bayangi oleh Hukum Taurat. Kita tidak perlu seperti para Ahli Taurat dan Farisi yang berjuang melakukan Hukum Taurat supaya beroleh selamat. Kita sudah menjadi orang merdeka, sebab berada di dalam iklim kasih karunia Tuhan.

Tetapi  kita harus selalu waspada terhadap diri kita sendiri! Kebahagiaan kita sebagai anak-anak tebusan Tuhan, bisa membuat kita menjadi sombong dan mau seenaknya sendiri saja. Kita beranggapan bahwa Tuhan sudah jelas mengasihi kita, lalu dengan seenaknya kita berbuat dosa lagi. Padahal kita tidak dijadikan anak-emas Tuhan, tetapi anak Tuhan.

Selama berada di dunia ini kesempatan berbuat dosa selalu ada, tetapi tidak berarti kita boleh menikmati berkat Tuhan sambil menikmati manisnya dosa. Kalau sudah menjadi hamba seseorang harus taat kepadanya (Roma 6:16).

Ada cerita menarik tentang seekor binatang yang seenaknya saja berbuat jahat.

Pada suatu hari seekor kalajengking yang telah lama hidup di atas gunung memutuskan menikmati petualangan yang lebih menantang serta ingin menyusuri bagian lain dari dunia ini. Setelah pergi meninggalkan sarang dan beberapa hari masuk ke dalam hutan, sampailah ia di tepi sungai yang deras arusnya. Sang kalajengking berhenti terpana karena ia tidak mampu berenang menyeberangi sungai itu. Setelah lama mencari akal akhirnya ia merasa putus asa dan mengambil keputusan untuk berbalik pulang ke rumah.

Tiba-tiba ia melihat seekor kodok sedang asyik berjemur di atas batu besar. Ia kemudian memutuskan untuk meminta pertolongan sang kodok. Dengan suara yang bersahabat, sang kalajengking menyapa si kodok, ”Tuan Kodok yang budiman apakah kau sudi menggendongku menyeberangi sungai ini, agar aku dapat melanjutkan petualanganku?” Namun sang kodok menjawab dengan ragu,”Tuan Kalajengking, bagaimana aku tahu bahwa niatmu tulus, bagaimana kalau ketika aku membantu, kau malah menyengatku sampai mati?”

Sang kalajengking tertawa dan berkata,”Tuan Kodok janganlah takut hal itu bisa terjadi, karena jika aku menyengatmu, aku juga akan mati tenggelam di sungai karena aku tidak dapat berenang.” Sang kodok merasa hal itu masuk akal namun kembali bertanya kepada sang kalajengking,”Bagaimana kalau sudah hampir sampai ke pinggiran baru kau menyengatku?” 

-daud adiprasetya

lanjut…