Saya pernah mendengar kisah tentang seorang  pendeta (dari kota Solo) yang bicaranya gagap dalam percakapan sehari-harinya, tetapi pada saat menyampaikan Firman Tuhan  justru bisa lancar tanpa gangguan.

Di Malang ada seorang ibu yang bersaksi bahwa ke mana-mana selalu pakai baju hangat, karena takut terhadap angin. Tetapi sesudah menerima panggilan menjadi anggota Majelis Jemaat (dulu Diaken), tubuhnya semakin kuat karena banyak melakukan pelawatan jemaat, sehingga sudah tidak pernah lagi memakai baju hangat.

Jangan terkecoh oleh kesaksian-kesaksian seperti itu, sebab ada kalanya tidak demikian, bahkan sebaliknya yang terjadi. Itu merupakan misteri, tapi satu hal yang pasti bahwa setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang setia selalu mengalami kepuasan batiniah, sebab hidupnya menjadi semakin bermakna.

Oleh karena itu hati-hati menjaga tubuh.

Tuhan saja begitu menopang kesehatan dan keselamatan  kita, termasuk tubuh kita tentunya, maka sudah selayaknya kita juga seirama dengan Tuhan. Ada saja orang-orang yang menelantarkan tubuh dan jiwanya dengan percabulan, serta berbagai kebiasaan lain yang sangat merugikan. Mereka lupa bahwa dalam hidup ini kita dapat melakukan banyak hal yang berguna dan bermakna dengan tubuh kita, sehingga Tuhan menjadikannya bait Roh Kudus. Kalau begitu setiap orang sebenarnya mendapatkan panggilan Tuhan untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya, dan terus berkarya demi kasihnya kepada Tuhan dan sesama. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Siapa lagi kalau bukan Anda dan saya.

Panggilan demi panggilan harus terus bergulir.

Jangan lupa bahwa Kristus yang telah bangkit itu juga ingin mengajak kita mengalami kebangkitan di dalam hidup kita masing-masing. Sebab apakah artinya kebangkitan Kristus yang dahsyat itu, jika tidak sampai bisa menular kepada kita. Apakah Anda dan saya merasa menjadi bagian dari Tubuh-Nya? Kalau ya, maka marilah secara nyata kita menunjukkan kesamaannya. Kalau begitu Kristus yang sudah terima panggilan dari Bapa untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya, memanggil kita sekarang untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya meraih orang-orang di sekitar hidup kita. Dan semoga mereka bersedia kita ajak melakukan estafet panggilan Tuhan. Bukankah  kita sudah dibeli dengan lunas, maka muliakanlah Allah dengan tubuh kita.

“Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” Mazmur 139:17

Menganalisis keterlibatan di dalam karya Tuhan hanya membuat kita terkagum-kagum tak habis pikir, itu karena keterbatasan kita. Namun semua yang kita alami ini adalah fakta, bukan khayal semata.

Kalau begitu mari kita nikmati segala pesona, sensasi, surprise, bonus, serta aneka ragam kebaikan Tuhan di sepanjang hidup ini. Jika kita mau menjadi hamba-Nya yang mudah terheran-heran melihat kebesaran-Nya, maka Dia senang akan ketulusan dan keluguan kita, lalu menghadirkan banyak hal lain yang lebih mengherankan!

-daud adiprasetya