Oleh: Eva Kristiaman dari Indonesia

Hai Teman-Teman Indonesia-ku yang kukasihi,

Aku menulis surat ini karena tampaknya kamu begitu sibuk di dapur, dan tak seorang pun mendengar  ketukan “Tok, Tok”-ku di pintumu.

Aku ingin memberi tahu bahwa aku sangat ingin untuk masuk dan bersantap bersamamu. Aku tahu kamu sangat mengasihiku, dan sedang menyiapkan masakan Indonesia terbaik bagiku. Betul, aku sangat menggemari masakan Indonesia, sangat sedap dan lezat . Menurutku, hingga kini kamu terlalu sibuk mengurusi soal masakannya. Yang terutama buatku adalah relasi yang akrab denganmu. Aku senang bila bisa bercakap-cakap sambil sarapan denganmu tiap pagi.

Jadi, permisi, bolehkah aku masuk? … Tolong buka pintunya, persilakan aku masuk dan tinggal bersamamu. Ijinkan aku melayanimu, aku tuan rumahnya dan kamu tamuku.  Nikmati waktu yang menyenangkan bersamaku, kenallah diriku semakin baik dan semakin dekat. Semakin kamu mengenalku, semakin banyak pemandangan mendalam yang kamu peroleh. Itu akan membuka pikiranmu dan membuka matamu.

Aku tahu hingga kini kamu hafal bahwa “Manusia tidak hidup dari nasi saja, melainkan dari setiap kata yang diucapkan Allah.” Ya, kamu akan menikmati bagaimana menemukan kebenaran. Itu lebih manis dari madu terbaik di Indonesia. Kamu akan amat menggemari masakanku. Kamu akan minum dari air hidup yang kuberikan kepadamu, dan kamu takkan pernah haus lagi.

Aku sangat ingin jadi Sahabat karibmu. Supaya, di hari terakhir nanti aku dapat menyatakan bahwa “Aku kenal kamu.”

Salam kasih,

Yesus

* Diterjemahkan seijin Media Assosiates International, dari naskah lomba menulis LittWorld 2012, dengan judul asli “May I come in, please…”, yang menerima Runner up honorable mention prize pada tanggal 1 Agustus 2012.

* Naskah ini menjawab salah satu pertanyaan lomba menulis LittWorld 2012: If Jesus were to write a letter to the church in your country, what would He say?—Bila Yesus menulis surat kepada gereja di negaramu, apa yang akan Dia katakan?