Pada akhir abad ke-19, lahir dan muncul pelukis-pelukis maestro pada zaman tersebut, seperti Pierre A. Renoir, Henry Mattisee, ataupun Pablo Piccaso. Pada saat itu masyarakat di Barat sedemikian mengagumi dan menghargai hasil karya indah para pelukis.

Emmanual Ninger, seorang pelukis imigran asal Jerman yang merantau sampai ke Hoboken, New Jersey. Ninger mengelabui para tetangganya dengan mengarang cerita bahwa kekayaan yang ia milki sekarang berasal dari hasil pensiun sewaktu menjadi tentara di negaranya. Ia kemudian menjadi orang yang terpandang di lingkungannya karena tergolong kaya pada zamannya. Salah satu kebiasaannya adalah mengunjungi tempat minum yang ada di kota tersebut. Sang pemilik sangat menghormati dan mengagumi Mr. Ninger.

Pada suatu hari, sang pemilik tampak sibuk membersihkan tempatnya, dan pada saat yang bersamaan Mr. Ninger membayar minumannya sebelum beranjak meninggalkan tempat itu. Namun setelah menerima lembaran pecahan 20 dolar dengan tangan yang basah, sang pemilik bar itu melihat sesuatu yang aneh dari lembaran uang dolar tersebut. Uang tersebut terlihat luntur ketika dipegang oleh jarinya yang basah. Ia merasa semakin aneh karena di jari-jarinya tertinggal tinta dari lembaran uang itu. Ia sangat yakin bahwa uang itu adalah uang asli apalagi yang memberikan kepadanya adalah seorang yang terpandang.  Karena tetap saja curiga dan penasaran, akhirnya ia melaporkan hasil penemuannya kepada polisi.

Setelah mendapatkan surat perintah, polisi segera mendatangi rumah Mr. Ninger. Polisi menemukan hal yang luar biasa, di bagian atas langit-langit rumahnya ditemukan ruangan tersembunyi, di dalamnya banyak lembaran-lembaran uang palsu baik yang telah diselesaikan maupun yang sedang dalam proses pengerjaan. Kepiawaian Mr.Ninger melukis uang dolar tidak dapat diragukan sebagai hasil karya dari seorang artis yang sempurna.

Emmanual Ninger yang juga mendapat julukan “Jim the Penman” ternyata adalah seorang ahli pengganda uang palsu yang akhirnya diringkus pada tahun 1896. Beserta uang-uang palsu disita pula tiga lukisan potret diri Mr.Ninger. Setelah penangkapannya, tiga lukisan potret dirinya dilelang dan mampu menghasilkan penjualan 5,000 dolar lebih untuk setiap lukisan. Dan cerita yang paling tragis adalah waktu yang dibutuhkan untuk melukis selembar uang dolar tiruan sama lamanya dengan waktu yang dibutuhkan untuk melukis selembar potret dirinya. Emmanual Ninger dikenang sebagai pelukis yang mencuri arti kesuksesan yang terdalam dari dirinya.

Success Journey

Sulit Dimengerti. Mengapa Mr. Ninger lebih memilih berjerih lelah untuk melakukan pelanggaran hukum terhadap negara,  padahal dia memiliki kesempatan dan kemampuan, untuk meraup penghasilan besar yang halal, bermutu tinggi dan terhormat. Bukankah perbuatan Mr. Ninger tadi mengingatkan kita kepada orang-orang yang menjalankan hidup keagamaan, disertai kepatuhan yang luar biasa, sampai dirasakan sebagai beban yang berat, namun tidak dihargai oleh Tuhan.  Sementara itu Tuhan lebih berkenan kepada para penyembah sejati yang melakukan ibadahnya dengan segala ketulusan hati dan sukacita.

– daud adiprasetya

lanjut…