Merenungkan itu, aku tersadar, Dia mengawasiku, Dia begitu peduli, Dia juga peduli pada kegelisahan di kalbuku, dan menunda memberi jawaban hingga momen puncak yang pas! Di saat Dia memberi tahu ‘dia peduli!’ di saat yang sama Dia memberi tahu ‘Dia peduli!’

sendiri namun tak sendirian

Biografi IWAN K. KOSASIH

Kadang-kadang saja dalam surat dia berkata, “Aku senang…” atau “Aku harap…” atau “Aku berdoa…”.

Aku bertanya-tanya mengapa dia tak pernah menanyakan keadaanku, “Apa kabar?” atau “Bagaimana keadaanmu?” Apakah dia peduli padaku? Oh, aku senang dia berkata, “Aku senang…” Aku berharap dia berkata, “Aku berharap…” Aku berdoa dia berkata, “Aku berdoa…” Bisikku kepada Tuhan di kedalaman kalbu.

Aku sedang mengejar tenggat waktu menyelesaikan menulis sebuah buku biografi dalam enam minggu. Dari pagi hingga larut malam tiada henti. Aku benar-benar butuh mukjizat Tuhan. Daya utama kudapat dari bersyukur untuk perbuatan agung yang dilakukan-Nya bagiku, dan siraman kasih dan doa para sahabat, sepanjang perjalananku menulis buku ini.

Bukan hanya tubuhku yang letih, tetapi mataku rasanya tak tahan lagi menatap huruf-huruf di layar komputerku. Aku menulis surat elektronik singkat kepadanya, “Aku lelah sekali. Mataku sangat letih.”

Tanpa kuduga, dia segera membalas, “Jangan bekerja terlampau keras! Semakin kamu letih semakin sedikit yang dapat kamu tuntaskan.”

Lihat pos aslinya 368 kata lagi