You are currently browsing the category archive for the ‘Ada Yang Mati di Pesta Itu!’ category.

Pertaruhan Gengsi

Pada titik ini: gengsi sedang dipertaruhkan. Herodes sadar, dia akan menjadi bahan tertawaan jika menolak permintaan itu. Bukankah aib namanya kalau seorang raja menelan ludah sendiri?

Raja tak mau menelan ludah sendiri. Herodes tak mau kehilangan gengsi. Dia tidak mau ditertawakan. Dan pesta pun berakhir tragis: kepala seorang nabi tergolek di talam.

Yohanes Pembaptis tak lagi bisa bersuara. Dia mati bukan karena tindak subversib, bukan karena gugur di medan perang, melainkan karena sang raja tak sudi meralat sabdanya.

Herodes lebih mempertahankan gengsi. Padahal, sebagai raja, dia bisa membatalkan janjinya. Dia memang perlu minta maaf karena telanjur berjanji. Tetapi, permintaan memenggal kepala orang tanpa sebab merupakan kejahatan. Dan Herodes bisa saja menegur anak perempuan Herodias itu karena telah meminjam tangan raja untuk mewujudkan maksud jahatnya.

Tetapi, lagi-lagi sang raja tidak mampu memelihara lidahnya. Untuk minta maaf pun, raja tak punya nyali. Apalagi menegur gadis tersebut! Penginjil Markus mencatat: ”Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.”

Kata segera yang dipakai penulis memperlihatkan bahwa raja memang tak mampu memelihara lidahnya. Untuk sebuah keputusan hukuman mati bagi rakyatnya sendiri—bahkan orang yang dihormatinya—raja enggan berpikir panjang. Semua serba cepat dan demi gengsi. Raja lebih mengutamakan emosinya.

Agaknya, persoalan terbesar raja bukanlah tak mampu, melainkan tak mau memelihara lidahnya. Dan karena raja kurang bijak menggunakan lidahnya, ada yang mati di tengah pesta itu!

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Sang bunda tak menggubris tawaran tersebut. Hatinya telah dibakar dendam kesumat. Setengah kerajaan tak cukup memadamkannya. Di mata Herodias, Yohanes Pembaptis harus mati.

Dendam Herodias memijar kala Yohanes Pembaptis mengkritik perkawinannya dengan Herodes. Di mata sang nabi, perkawinan itu haram hukumnya karena Herodias berstatus istri Filipus, sepupu Herodes sendiri. Herodias tak terima kritikan tersebut. Cita-citanya satu: kematian Yohanes Pembaptis.

Herodes tahu dendam permasurinya. Dia pun tak menyukai Yohanes Pembaptis. Namun, raja hanya menangkap dan enggan membunuhnya. Lagi pula, kritikan itu bukan tanpa dasar.

Skandal perkawinan raja telah menjadi rahasia umum. Namun, tak seorang pun berani menegur. Yohanes Pembaptis beda. Di tengah masyarakat serba korup, Yohanes Pembaptis tetap tegar mengumandangkan kebenaran. Dia menegur orang tanpa melihat jabatan. Dia berpedoman: kebenaran dinyatakan apa pun resikonya.

Sebagai nabi, penyambung suara Allah, Yohanes Pembaptis hanya memenuhi panggilannya. Dia tak mau kompromi. Prinsip itulah yang membawanya ke penjara.

Herodes tak berani bertindak gegabah. Bagaimanapun, Yohanes Pembaptis mengatakan apa adanya. Di mata raja, Yohanes Pembaptis seorang yang benar dan suci. Karena itulah, raja ingin melindunginya dari kematian.

Upaya itu gugur karena raja tak mampu memelihara lidahnya. Dia telah berjanji, bahkan bersumpah. Ketika anak perempuan Herodias, atas bujukan ibunya, meminta kepala Yohanes Pembaptis, Herodes bak makan buah simalakama.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Berkata peliharakan lidah! Peribahasa ini sungguh relevan dalam hubungan antar manusia karena orang cenderung tidak hati-hati dalam bicara. Kebanyakan orang ngomong dulu baru mikir.

Kitab Amsal menyatakan: ”Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Lidah berkuasa menyelamatkan atau mematikan hidup manusia.

Itulah yang terjadi di tengah pesta ulang tahun Herodes (Markus 6:14-29). Yang berulang tahun tak sanggup memelihara lidah. Akibatnya sungguh fatal: ada yang mati di tengah pesta itu.

Memelihara Lidah

Kisah kematian itu berawal ketika raja terpesona oleh tarian anak perempuan sang permaisuri. Saking senangnya, dia bersabda, ”Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”

Tampaknya, Herodes tak lagi berpikir logis. Dia merasa sanggup melakukan segala sesuatu. Bayangkan, jika gadis itu minta rembulan! Dan Herodes serius dengan ucapannya, bahkan bersumpah, ”Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!”

Mengapa sumpah? Mungkin raja takut dianggap obral janji. Herodes tak mau disepelekan. Ini soal gengsi. Karena gengsi jugalah, dia mau menyerahkan setengah kerajaan. Di sini letak masalahnya: apa hak raja menyerahkan setengah kerajaan? Apakah kerajaan itu memang miliknya?

Dalam pemahaman masyarakat Yahudi, raja mereka adalah Allah sendiri. Kerajaan Israel bukanlah properti pribadi, yang boleh dipindahtangankan sesukanya. Raja hanyalah pengelola. Saat raja lupa—atau melupakan—hakikat selaku pengelola, malapetaka mengancam kehidupan.

Uniknya, malapetaka terjadi karena gadis itu ternyata lebih mampu memelihara lidahnya. Dia tak buru-buru ngomong. Mungkin, dia berprinsip: ”pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna”.

Gadis itu tahu, kekuasaan ada di tangannya jika menerima tawaran raja. Hanya dengan anggukan kepala dia telah menempatkan diri setara raja. Namun, dia tak asal bicara, juga tak asal mengangguk. Dia menemui Herodias, ibunya, meminta nasihat.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,298 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: