You are currently browsing the category archive for the ‘Dengan Gembira dan Tulus Hati’ category.

Agaknya ada kaitan gembira dengan tulus hati. Tulus berarti memandang orang lain tanpa prasangka. Tulus berarti bersikap jujur, terbuka, dan apa adanya. Kita sering sulit bergembira karena kita tidak mampu bersikap jujur terhadap diri sendiri, apalagi terhadap orang lain.

Bersikap jujur atas kegagalan dan kelemahan diri sendiri memang sakit. Namun, itu lebih melegakan dan pasti menyehatkan ketimbang menolaknya. Prasangka terhadap orang lain malah membuat kita memasang strategi dan kuda-kuda karena takut tersaingi. Buntut-buntutnya, kita makin cemas.

Sikap gembira dan tulus hati merupakan pilihan. Bergembiralah karena Allah adalah gembala kita! Tuluslah kepada sesama. Itulah ibadah sekaligus abudah sejati!

– yoel m. indrasmoro

Dalam hidup, hati gembira merupakan modal utama. Memang gampang diomongkan, meski sulit dipraktikkan. Mungkinkah bergembira saat hati luka? Mungkinkah bergembira saat yang didamba berbeda dengan kenyataan? Mungkinkah bergembira di tengah derita?

Berkait dengan derita, Petrus menegaskan, ”Sebab adalah anugerah jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” (I Petrus 2:19).

Derita adalah anugerah. Tentu, yang dimaksud bukanlah derita akibat kesalahan sendiri, melainkan karena kehendak Allah. Derita semacam ini disebut anugerah karena kita beroleh kesempatan mengikuti jejak Kristus. Itulah yang seharusnya membuat umat bergembira: dilayakkan mengikuti jejak Kristus.

Meski demikian, pertanyaan yang sungguh layak diajukan: Apakah tidak ada alasan yang membuat kita bergembira?

Pandanglah surya kala pagi dan sore! Perhatikanlah rekahnya sekuntum mawar! Tengoklah ketenangan bayi yang lelap dalam dekapan bunda! Rasakanlah kasih dan perhatian orang-orang terdekat. Apakah Anda tidak merasakan kegembiraan ketika menyaksikan semuanya itu?

Pandanglah diri Anda sendiri! Bukankah Anda masih hidup hingga kini? Diri kita sesungguhnya bisa menjadi alasan kuat untuk bergembira. Dunia sudah cukup suram. Janganlah tambah kesuramannya dengan kesedihan Anda! Kegembiraan Anda akan membuat orang sekitar turut gembira.

lanjut…

– yoel indrasmoro

Kata ibadah dalam Perjanjian Baru (PB) diterjemahkan dari kata Yunani leitourgia (laos = rakyat, dan ergon = kerja), yang berarti kerja bakti yang dilakukan penduduk kota. Sejak abad ke-4 sM istilah itu dipakai untuk menggambarkan apa yang dibaktikan seseorang untuk kepentingan bersama. Ketika para penulis PB menggunakan kata ibadah memang tidak dimaksudkan untuk persoalan rohani belaka. Ibadah juga soal kerja bagi kepentingan banyak orang.

Dalam bukunya Bayang-bayang Ratu Adil, Sindhunata berkisah perihal wasiat seorang rahib Benediktin, yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit di sebuah biara.”Bila aku mati,” tutur rahib tersebut, ”aku tidak mau membawa apa-apa kecuali sebuah jarum jahit. Jika Allah bertanya, ’Apa yang kau kerjakan di dunia selama ini?’ Aku akan berkata bahwa kerjaku hanya menjahit. Namun, setiap kali menjahit aku selalu mengingat Engkau. Dan jarum jahit inilah buktinya!”

Dalam bahasa Arab pun, kata ibadah—bahasa Indonesia meminjam dari bahasa Arab—sama akar katanya dengan abudah, yang berarti kerja. Kerja juga ibadah.

Lagi pula, baik ibadah maupun abudah juga seakar kata dengan abduh yang berarti hamba. Bisa disimpulkan, sebagai abdullah—hamba Allah—setiap orang harus melakukan baik ibadah maupun abudah.

Berkenaan dengan ibadah hari Minggu dan abudah hari lainnya, Lukas menyatakan, jemaat mula-mula melakukan keduanya dengan gembira dan tulus hati.

lanjut…

– yoel indrasmoro

Menyaksikan apa yang dilakukan jemaat mula-mula (Kis. 2:41-47) mungkin membuat kita heran sekaligus iri. Jumlah yang besar itu—lebih dari 3.000 orang dewasa—tidak mengurangi kualitas persekutuan mereka. Biasanya—penyakit jemaat modern—semakin banyak anggota, semakin sulit memahami satu sama lain.

Catatan Lukas memperlihatkan, jemaat mula-mula tidak membedakan antara yang rohani dan profan; antara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, mereka bertekun dalam pengajaran dan persekutuan. Lukas juga menyatakan, mereka senantiasa berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Di sisi lain, selalu ada warga jemaat yang menjual hartanya, kemudian membagi-bagikannya kepada warga papa sesuai kebutuhan.

Mereka tak cuma bicara kasih, namun langsung mempraktikkannya. Kasih meraga dalam hidup sesehari.

Barangkali kita merasa janggal dengan praktik macam begini. Tetapi, itulah yang dilakukan. Jemaat mula-mula meyakini, apa yang mereka miliki merupakan kepunyaan bersama. Intinya: mereka tidak ingin rekan seiman hidup kekurangan, apalagi mati kelaparan. Sekali lagi, tidak hanya ibadah diutamakan, tetapi juga keseharian hidup.

Dengan kata lain: setiap hari mereka beribadah melalui kata dan karya. Ibadah tidak dibatasi dan diikat ritus, tetapi merupakan gaya hidup. Itulah ibadah sejati.

lanjut…

– yoel indrasmoro

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 33,903 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: