You are currently browsing the category archive for the ‘“Ebony and Ivory”’ category.

Bukan Peniadaan Agama Lain

Namun demikian, itu tidak berarti orang Kristen boleh bersikap arogan dan merendahkan penganut agama lain. Sebaliknya, mereka harus mengakui dan menghormati hak hidup agama lain, termasuk di dalamnya hak untuk dianut, diamalkan, dan disiarkan, tanpa perlu jatuh ke dalam sinkretisme. Pengikut Kristus wajib membela hak-hak agama lain yang diperlakukan tidak adil.

Perlu juga disadari dan diakui adanya sekelompok orang non-Kristen yang sungguh saleh dan taat terhadap ajaran agamanya. Mengklaim hanya orang Kristenlah yang dapat berbuat baik dan sungguh saleh merupakan hal absurd. Dalam ”Perumpamaan Orang Samaria”, Yesus Kristus mengakui tidak semua orang Samaria buruk sifatnya. Bahkan, ada yang lebih lebih baik ketimbang orang Yahudi.

Leslie Newbigin, dalam bukunya Injil di Masyarakat Majemuk, menegaskan bahwa hal iman merupakan hak pribadi setiap orang dan tidak boleh mendapatkan paksaan dari siapa pun juga. Kita tidak berhak memaksakan agar kebenaran agama yang kita anut juga harus berarti benar bagi penganut agama lain. Namun, itu tidak berarti kita dapat menyatakan bahwa semua agama itu sama. Atau, agama-agama itu berbeda jalan, tetapi satu tujuannya.

Pengikut Kristus, tanpa sedikit pun mengurangi hormat kepada agama lain dan hak setiap orang untuk menentukan sendiri agamanya, harus memberitakan penyelamatan Allah kepada sesamanya. Orang Kristen harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendengar dan menjawab penyelamatan Allah itu. Sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk diselamatkan.

Pemberitaan Injil adalah demi keselamatan manusia, bukan untuk meniadakan agama lain; berjalan di atas prinsip kebebasan, bukan paksaan. Itulah arti Injil sebenarnya! Begitu pulalah makna yang tersirat dalam lagu Ebony and Ivory.

– yoel m. indrasmoro

Pengikut Kristus harus mengakui dan menghormati hak setiap orang untuk menentukan bagi dirinya sendiri agama yang hendak dipilih dan dianutnya. Di dalamnya tentu terkandung penghargaan atas kebebasan berpindah agama.

Kesadaran religius manusia memang tak musnah karena dosa. Namun, agama itu sendiri diciptakan manusia dalam kondisi dosa—manusia telah kehilangan persekutuan sejati dengan Allah. Dan agama-agama dapat menjadi ”benih awal” bagi manusia untuk menoleh kepada Yesus Kristus. Hanya dengan percaya kepada-Nya, manusia sampai kepada Allah.

”Kisah Orang Majus dari Timur” bisa menjadi contoh. Berdasarkan pengetahuan dan agama yang dianut, orang Majus tidak mempedulikan jarak, rintangan, dan bahaya, pergi ke Yerusalem untuk menyembah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka memahami bahwa Yesus lebih berkuasa dari raja-raja di dunia Timur. Mereka menyatakan ketaklukkan mereka dengan sujud dan mempersembahkan mas, kemenyan, dan mur.

Agama sendiri tidak menyelamatkan. Keselamatan, dalam pengertian pulihnya hubungan antara manusia dan Allah, hanya diperoleh di dalam penyelamatan yang dilakukan Allah sendiri. Di sinilah keunikan agama Kristen.

Agama Kristen diciptakan sebagai suatu sistem kehidupan religius berdasarkan penyelamatan Allah atas manusia. Keselamatan dipahami bukan karena upaya manusia, tetapi semata-mata karya Allah.

Karena itulah, bagi seorang Kristen, agama yang dianutnya merupakan wadah bahwa ia telah menerima penyelamatan Allah, sekaligus wadah untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah berdasarkan penyelamatan Allah itu.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Ebony and Ivory live together in perfect harmony. Side by side on my piano, keybord, oh Lord, why don’t we?

Demikian lirik awal lagu yang digubah dan dinyanyikan dua orang yang sungguh berbeda dalam pandangan manusia. Paul Mc. Cartney, warga negara Inggris, berkulit putih, sedangkan Stevie Wonder, warga negara Amerika Serikat keturunan negro, berkulit hitam. Yang satu tuna netra, yang lain tiada cacat pada matanya.

Semua perbedaan itu tidak menghalangi mereka dalam menciptakan dan menyanyikan lagu tersebut. Perbedaan tidak menjadi alasan untuk bersikap membedakan, bahkan mendorong mereka bersatu dalam karya.

Sebagai musisi, mereka paham benar keberadaan bilah-bilah kayu eboni hitam dan gading putih yang berpadu sempurna menjadi tanda titi nada. Pertanyaan besarnya, sekaligus ungkapan keheranan, mengapa manusia tidak?

Pertanyaan dalam lagu tersebut melintas dalam benak kala menyaksikan aksi kekerasan, berlabel agama, di kawasan sekitar Monas di hari lahirnya Pancasila.

Hak dan Kewajiban Asasi Manusia

Kemajemukan Indonesia—yang terdiri atas beragam suku, bangsa, bahasa, juga agama—tak mungkin dipungkiri. Bagaimanakah sikap seorang Kristen terhadap kemajemukan agama di Indonesia?

Sikap terhadap agama-agama bertolak dari pemahaman bahwa agama merupakan suatu gejala manusiawi universal. Dalam diri manusia terdapat semacam kesadaran religius untuk berhubungan dengan Allah. Calvin menyebutnya benih keagamaan.

Setiap orang memilikinya karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Benih keagamaan itulah yang mendorong manusia menciptakan agama dan menjalaninya sebagai salah satu segi kehidupannya. Oleh karena itu, penghayatan keberagamaan sejatinya merupakan hak dan kewajiban asasi manusia, yang berasal dari Sang Pencipta.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 33,903 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: