You are currently browsing the category archive for the ‘Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang’ category.

Maria tak beda dengan Yusuf. Para penginjil tidak menceritakan pembelaan diri Maria. Dia juga tak mau membuat sensasi. Membela diri memang tak salah. Tetapi—berkait dengan kehamilannya—siapa pula yang mau dan mampu percaya!

Maria telah berdamai dengan dirinya. Dia tahu, Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Allah memiliki visi. Ketika Allah memilihnya menjadi wahana kehadiran Raja Damai, Maria tidak menolak. Sebagai hamba Allah, dia mengambil sikap taat menjalani visi Allah.

Sewaktu Maria berdamai dengan dirinya, tak sulit baginya berdamai dengan Yusuf. Tentu, dia mengetahui rencana Yusuf. Maria pun tak berontak. Dia hanya diam. Pada saat itulah Allah campur tangan.

Campur tangan Allah menguatkan Yusuf, juga Maria, untuk saling berdamai. Campur tangan Allah memampukan Yusuf, juga Maria, taat sebagai hamba Allah. Campur tangan Allah mengubah Yusuf, juga Maria, menjadi baru seturut citra-Nya. Campur tangan Allah membuktikan, nama-Nya sungguh Imanuel—Allah menyertai.

Tak hanya di masa lampau di Yudea. Juga kini dan di sini. Nama-Nya tetaplah Imanuel. Dia beserta Saudara dan saya kini dan selamanya.

– yoel m. indrasmoro


BELAJAR BERSYUKUR

Semuanya itu dimulai dari diri sendiri! Kita perlu berdamai dahulu dengan diri sendiri. Mustahil berdamai dengan orang lain, jika kita belum berdamai dengan diri sendiri.

Setiap orang yang belum mampu menerima kelemahan diri, pastilah sulit menerima kelemahan orang lain. Dia akan cenderung mencari kambing hitam. Semua orang serbasalah di matanya.

Sebaliknya, sulit bagi seseorang menerima kekuatan orang lain, jika dia belum menerima—atau belum menemukan—kekuatan dirinya. Dia mudah iri kala melihat kesuksesan orang lain.

Keserakahan—jika ditelusuri—berakar pada ketidakmampuan berdamai dengan keadaan diri sendiri. Ketidakmampuan bersyukur menjadikan orang—mumpung ada kesempatan—berlaku korup. Ujung-ujungnya: orang lain menderita!

Jika seseorang mampu mensyukuri berkat Tuhan, dia tak perlu lagi menjadi serigala terhadap sesamanya. Kedamaian bukan lagi utopia!

Kedamaian berawal pada kemampuan diri mensyukuri keberadaan diri sebagai karunia Tuhan! Belajar bersyukur mutlak perlu dalam hidup bersama dengan orang lain.

BELAJAR DARI KELUARGA KUDUS

Keluarga kudus bisa menjadi teladan. Yusuf, suami Maria, merupakan pribadi yang tak suka mencari kambing hitam. Dia juga tak ingin menang sendiri. Dia berupaya hidup berdamai orang lain, meski menyakitkan hatinya. Dia memilih sakit, ketimbang menyakiti.

Dengan ikhlas, Yusuf memutuskan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam. Dia tidak mau ribut, juga tidak menyalahkan tunangannya. Dia berupaya untuk tidak melukai hati Maria.

Yusuf tidak merasa perlu membalas dendam. Dia juga tak ingin membuat sensasi dan mengharap belas kasihan orang. Agaknya, Yusuf telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Penginjil Matius mencatat, hatinya tulus. Kenyataannya, dia memang mampu bersikap siap kehilangan. Bahkan kehilangan harga diri.

Kepada pribadi demikianlah, Allah menyingkapkan visi-Nya: ”Anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus”. Akhirnya, Yusuf pun mantap menjalankan tugas sebagai Bapak Hukum bagi Yesus.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Tajuk di atas—tema Natal PGI-KWI 2008—awalnya merupakan nasihat Paulus kepada umat di Roma. Di tengah budaya plural-metropolis, umat didorong untuk mengambil langkah aktif dalam hidup bermasyarakat.

Dalam kehidupan berbangsa, tema itu semakin penting dan bermakna. Makin hari suasana ”damai” makin jauh panggang dari api. Simaklah surat kabar! Mudahkah mencari kedamaian di sana?

SITUASI SERBARESAH

Krisis ekonomi di Amerika tak hanya mengancam negeri adidaya itu. Negara-negara kaya, apa lagi negara kayak Indonesia, pun terkena imbasnya. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menyebabkan para pengusaha ketar-ketir. Para buruh—lebih tak nyaman lagi—resah di bawah ancaman PHK.

Di bidang pertanian, petani kelapa sawit menjerit di tengah turunnya harga tandan buah segar. Bahkan ada yang bunuh diri karena stres. Kelangkaan pupuk bersubsidi menyebabkan petani resah di bawah ancaman gagal panen.

Kriminalitas pun menjadi-jadi. Kesesakan hidup dianggap lisensi. Orang makin mudah terprovokasi. Tak pikir panjang lagi. Yang penting perut kenyang! Di tingkat elite tindak korupsi makin menggila. Terkesan nggak ada matinye!

Dalam situasi serbaresah itulah, nasihat Paulus itu kembali digemakan: ”Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang.” (Roma 12:18).

KARYA AKTIF

Dalam kata ”hiduplah” terkandung usaha, juga tersirat pilihan. Diri sendirilah yang bertanggung jawab memilih dan mengusahakan. Hidup kita memang bukan milik orang lain.

Kedamaian tak muncul begitu saja, namun karya aktif manusia. Tak juga instan. Butuh kerja keras. Suasana damai merupakan proses yang perlu dihadirkan secara serius dan fokus.

Damai yang dimaksud tentu bukan sekadar tiada perang. Lebih hakiki, apakah perilaku kita membuat damai orang lain? Atau, malah membuat resah!

Paulus juga menasihati umat agar tidak pilih-pilih tebu. Damai yang ditawarkan hendaklah bisa dinikmati semua orang. Jadi, bukan untuk kalangan sendiri.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 33,869 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: