You are currently browsing the category archive for the ‘Jika Tidak Tebanglah Dia!’ category.

MENJADI MANUSIA
Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi Malaikat atau pun setan.” Ya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Jika manusia tidak menjadi manusia, maka dia tidak memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Jika demikian, masih layakkah menganggap diri sebagai manusia?

Menjadi manusia merupakan panggilan manusia. Menjadi manusia berarti menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Ketika manusia tak lagi menjalani hakikat sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya….” (Yesaya 55:6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Dan berkait dengan pertobatan, saya dan Saudara termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu.

Kita bagai pohon ara yang diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengurus. Tetapi, kesempatan itu pun terbatas. Berbahagialah karena kita belum sampai pada masa tenggat itu! Masih ada waktu untuk bertobat. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Biasanya, ketika seseorang mendapat hal buruk, dia bertanya, ”Apakah dosa saya?” Tetapi, anehnya, jika kehidupan baik-baik saja, bahkan semakin baik, jarang yang bertanya bahwa semua itu merupakan kerjaan si Jahat!

Itu jugalah yang dipahami warga jemaat di Korintus. Sehingga Paulus perlu memberikan nasihat: ”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia.” (I Korintus 10:13).

Paulus juga meminta warga jemaat di Korintus untuk memohon kekuatan Allah agar dimampukan menanggung semua kesulitan itu. Kesulitan hidup bukan untuk dihindari, tetapi harus dihadapi.

KISAH POHON ARA
Yesus menolak menilai malapetaka sebagai hukuman Allah. Tetapi, itu tidak berarti, manusia boleh hidup sembrono. Selanjutnya Dia berkata, ”Tetapi jikalau kamu tidak  bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara demikian.” (Lukas 13:3). Untuk memperkuat argumennya, Yesus bercerita tentang pohon ara.

Pohon ara itu sudah seharusnya berbuah. Namun, selama tiga tahun berturut-turut Sang Pemilik merasa kecewa karena yang didapatinya hanya daun. Lalu, apa artinya pohon ara, jika tidak berbuah. Masak iya, mau panen daun?

Ketiadaan buah merupakan pemborosan. Telah banyak modal yang ditanam untuk pohon tersebut. Itulah yang membuat Sang Pemilik kesal dan menjatuhkan vonis: ”Tebanglah pohon ini! Untuk apa  ia hidup di tanah ini dengan sia-sia!” (Lukas 13:7).

Sang pemilik menjatuhkan vonis, namun Sang Pengurus berupaya memperpanjang rencana eksekusi. Dia berharap pohon ara itu berbuah tahun depan. Dengan sangat Dia memohon, ”Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Lukas 13:8-9).

Sang pengurus akan meneruskan pemeliharaannya, tetapi tidak mengatakan bahwa pohon ara itu pasti berbuah. Tugasnya memang hanya memelihara. Kepastian buah bukan tanggung jawabnya. Pohon itu sendirilah yang bertanggung jawab menghasilkan buah.

Tentulah kita tahu, yang dimaksud dengan Sang Pemilik adalah Allah Bapa, Yesuslah Sang Pengurus, dan kitalah pohon ara itu. Persoalannya: apakah hidup kita berbuah?

– yoel m. indrasmoro

”Sangkamu orang-orang Galilea  ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang  lain, karena mereka mengalami nasib itu?” (Luk. 13:2).

Demikianlah tanggapan Yesus mengenai orang-orang Galilea, yang darahnya dicampur oleh Pilatus dengan darah kurban mereka sendiri. Ada beberapa orang Galilea yang dibunuh tentara, berdasarkan perintah Pilatus, sewaktu mempersembahkan kurban di Bait Allah. Tak hanya dibunuh, darah korban dicampur dengan darah kurban yang hendak dipersembahkan di Bait Allah.

MALAPETAKA: HUKUMAN ALLAH?
Pilatus, menurut Stefans Leks, senang menghina bangsa Yahudi pada setiap kesempatan, merampas milik mereka, memperlakukan orang Yahudi seenaknya, dan membunuh tanpa perasaan. Sang Gubernur akhirnya dipecat Kaisar karena membantai sejumlah orang Samaria di Gunung Gerizim.

Para sejarawan menduga, orang-orang itu adalah pejuang Zelot yang bermarkas di Galilea. Siapa pun mereka, kematian itu mengenaskan dan membuat orang bertanya: ”Mengapa?”

Masyarakat Yahudi, juga masyarakat Indonesia masa kini, beranggapan bahwa malapetaka merupakan hukuman Allah. Kematian yang tak wajar dianggap sebagai hukuman Allah.

Yesus memerintahkan para muridnya untuk tidak begitu menilai kejadian mengerikan itu sebagai hukuman Allah. Itu namanya penghakiman dan pasti ketidakadilan. Sudah jadi korban, kok masih dihakimi!

Mungkin ada kaitannya. Allah bisa menjadikan sebuah peristiwa sebagai hukuman. Tetapi, para murid dilarang mengaitkan seluruh peristiwa naas dengan hukuman Allah.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,286 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: