You are currently browsing the category archive for the ‘Kalau Engkau Mau…’ category.

Mungkin saja, mantan penderita kusta itu takjub menyaksikan tindakan Yesus yang mengulurkan tangan-Nya, menjamahnya dan berkata kepadanya: ”Aku mau, jadilah engkau tahir.” (Markus 1:41). Orang sehat biasanya menghindarinya. Tetapi, Yesus dari Nazaret tidak menghindar, malah mengulurkan tangan dan menjamahnya.

Yesus tak merasa jijik. Yesus tidak takut menjadi najis. Yesus memedulikannya. Mungkin, alasan ini pula yang membuat dia merasa perlu melanggar perintah Yesus.

Jadilah Kehendak-Mu

Kisah penahiran itu bertumpu pada satu kalimat iman: ”Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” Dia mengimani bahwa Yesus mampu menolong. Tetapi, imannya itu tidak membuat dia memaksa Yesus. Dia ingin sekali tahir. Namun, dia membiarkan Yesus mengambil keputusan.

Dalam kehidupan di bumi manusia: ada yang mau, tetapi tak mampu menolong; ada yang mampu, namun tak mau menolong. Penderita kusta itu yakin Yesus mampu, tetapi dia memberikan kebebasan kepada Yesus untuk mau menolongnya atau tidak. Yesus berdaulat penuh.

Masalahnya: kadang manusia—dengan alasan iman—lebih suka memaksa Allah. Allah memang mengasihi umat-Nya. Namun, itu tak berarti Dia harus menaati keinginan manusia. Sebaliknya, manusialah yang harus menaati Allah.

Bukankah itu pula yang sering kita serukan dalam doa: ”Jadilah kehendak-Mu.”?

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Wajarlah jika dia tidak meminta Yesus menyembuhkannya. Dia tak hanya ingin sembuh. Dia ingin tahir. Seorang penderita kusta yang telah sembuh tidak serta merta diterima masyarakatnya. Dia harus mendatangi imam untuk mendapatkan sertifikasi perihal kesembuhannya.

Para imamlah yang berhak menentukan apakah mantan penderita itu tahir atau najis. Jika imam tidak menyatakan ketahirannya, dia akan tetap ditolak masyarakat. Itu berarti dia tetap tidak boleh beribadah seumur hidup.

Itu jugalah yang diperintahkan Yesus. ”Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam…” (Markus 1:44). Sekali lagi, tak hanya kesembuhan, dia menginginkan ketahiran.

Memberitakan Kabar Baik

Menarik disimak, dia yakin Yesus sanggup menahirkannya. Agaknya, dia percaya, Yesus tak hanya mampu menyembuhkan, namun berkuasa menahirkan. Bisa dimengerti, jika mantan penderita kusta itu tidak pergi kepada imam.

Kesukacitaan membuatnya tidak langsung pergi kepada imam. Saking girangnya, dia malah memberitakan kabar baik yang dialaminya kepada banyak orang. Akibatnya: Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Sejatinya, dia tidak menaati perintah Yesus.

Mengapa? Bisa jadi dia ingin agar penderita kusta lainnya dapat sembuh sebagaimana dirinya. Dia ingin rekan-rekannya sesama penderita menemui Yesus. Dia memang melanggar perintah Yesus. Namun, Yesus agaknya tidak akan menghukumnya jika berjumpa lagi dengannya.

Sesungguhnya, tak mudah bagi manusia menyembunyikan rasa gembira. Orang yang bersukacita biasanya senang bercerita dan mengajak orang turut bergembira bersama dengannya. Itu pulalah yang dialami mantan penderita kusta.

Atau, kelihatannya dia tidak perlu imam lagi. Di matanya Yesus lebih hebat dari para imam. Yesus sudah menahirkannya. Itulah yang terpenting dalam hidupnya.

– yoel m.indrasmoro

(bersambung)

“Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.” (Markus 1:40). Permohonan bernada rintihan itu keluar dari mulut seorang penderita kusta saat berjumpa Yesus.

Kita tak kenal orang tersebut. Penulis Injil Markus tak merasa perlu mencantumkan namanya. Bisa jadi, dia kesulitan memperolehnya. Lagi pula, apalah arti sebuah nama bagi penderita kusta.

Mayat Hidup

”Kusta” yang dimaksud bukanlah penyakit yang disebabkan Micobacterium leprae—sebagaimana kita kenal. Tetapi, semacam penyakit akibat jamur yang membuat kulit melepuh merah.

Dalam masyarakat Yahudi waktu itu, penderita kusta dianggap najis. Orang yang bersentuhan dengan penderita akan menjadi najis. Karena itu, mereka harus tinggal di luar kota agar masyarakat tidak tertular kenajisan. Mereka orang buangan. Jika terpaksa berjalan di tengah keramaian, penderita kusta harus berteriak: ”Najis… najis!” agar yang sehat menyingkir.

Jika demikian halnya, apakah nama masih ada artinya? Mungkinkah ada orang yang memanggilnya? Buat apa memanggil namanya? Kalau tersentuh, ’kan malah berabe! Bisa dimaklumi, jika penderita kusta enggan bertemu dengan orang sehat.

Penderita kusta tak ubahnya mayat hidup. Secara jasmaniah hidup, namun dianggap mati. Lebih tepat, dimatikan masyarakatnya. Bahkan, mereka tidak diizinkan mengikuti ibadah karena dianggap tidak bersih. Dengan kata lain, penderita kusta tak pernah beribadah.

Hidup Lahir Batin

Oleh karena itu, orang yang menemui Yesus bisa dikatakan anomali, kekecualian. Jika para penderita kusta lainnya telah patah arang, tinggal tunggu matinya; dia tak mau diam berpangku tangan. Dia ogah dimatikan oleh situasi dan kondisi masyarakat. Dia ingin hidup. Tak hanya lahir, juga batinnya.

Tanpa mengindahkan aturan, dia mendatangi Yesus. Tindakan yang bukan tanpa risiko. Biasanya orang akan menyingkir bila berpapasan dengan penderita kusta. Dia siap ditolak. Tekadnya satu: hidup lahir batin.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,298 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: