You are currently browsing the category archive for the ‘Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya’ category.

Demikianlah pertanyaan manusia sepanjang abad. Mengapa Allah mati? Bukankah Allah berkuasa memutihkan dosa semua manusia dalam sekejap? Mengapa harus salib?

Allah berkuasa, namun tak mau melakukannya. Jika Allah melakukannya, maka Dia mengingkari kata-kata-Nya: upah dosa adalah maut. Jika Allah melakukannya, keselamatan itu, mengutip Bonhoeffer, menjadi murahan sifatnya. Manusia akan meremehkan keselamatan itu. Jika Allah melakukannya, manusia tak beda dengan wayang yang takluk di tangan dalang. Manusia tak lagi punya pilihan terhadap keselamatan Allah itu.

Jalan salib adalah jalan yang sengaja ditempuh Yesus. Memang bukan jalan gampang. Namun, Yesus melakoninya. Visi-Nya memang untuk mati. Dan semuanya itu bertumpu pada satu kata: kasih.

Itulah satu-satunya alasan bagi Allah menempuh via dolorosa, jalan sengsara. Dan hanya karena itulah, kita menjadi sembuh.

Mengapa salib?

Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya.

– yoel m. indrasmoro

Pada salib tampaklah keadilan sekaligus kasih Allah. Salib menyatakan keadilan Allah. Upah dosa adalah maut. Kejahatan ada sanksinya. Manusia berdosa dan mautlah upahnya.

Allah membenci dosa, namun mengasihi manusia berdosa. Allah menghendaki kehidupan, dan bukan kematian, manusia. Karena itulah, Yesus, manusia nirdosa, menanggung upah dosa. Dia mati agar manusia hidup.

Itulah keadilan sekaligus kasih Allah. Salib menyatakan keadilan sekaligus kasih Allah. Itulah jalan yang ditempuh Yesus—Allah yang menjadi manusia. Dari sudut pandang manusia, Yesus merupakan korban, bahkan tumbal, persekongkolan antara pemerintah dan kaum agamawan.

Kaum agamawan, yang merasa mendapat saingan baru, berusaha menyingkirkan-Nya melalui tangan pemerintah. Pontius Pilatus lebih suka menggugu pendapat orang banyak, yang telah dihasut, agar langgeng kedudukannya.

Namun, dari sudut pandang Allah, Yesus adalah kurban. Yesus mempersembahkan diri-Nya. Yesus menjadikan diri-Nya pengganti umat dalam menanggung upah dosa. Yesus tidak menghindari salib. Dia taat menjalani panggilan-Nya sebagai kurban sempurna.

Pertanyaan yang layak diajukan: Mengapa? Pertanyaan itu pulalah mengemuka dalam syair (Nyanyikanlah Kidung Baru 85:1) berikut:

Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela,
berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rima-Nya.
Mengapa Yesus menderita didera, dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya? Kasih-Nya, ya kar’na kasih-Nya?

Sang penyair, E.G. Heidelberg, sejatinya mengumandangkan kembali pertanyaan-pertanyaan insan, yang diawali dengan tiga kata mengapa. Mengapa Yesus menjadi manusia? Mengapa Yesus disalib? Dan, mengapa Yesus mati bagi saya?

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Yesus memang tak masuk hitungan. Salib menistakan harkat dan martabat manusia. Pemerintah Romawi mempraktikkan hukuman salib bagi budak, penduduk asli setempat, dan penjahat kelas rendah, dan jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah, menjatuhkan hukuman salib kepada warga negaranya sendiri.

Bagi kalangan Yahudi, salib merupakan lambang penghinaan. Menyalibkan penjahat dalam keadaan hidup tak dikenal dalam Perjanjian Lama. Hukuman mati biasanya dilaksanakan secara rajam. Ada kalanya mayat digantung pada sebatang pohon sebagai peringatan. Mayat dianggap terkutuk karena posisi tergantung ditafsirkan sebagai dibuang bumi, ditolak sorga. Baik manusia maupun Allah tidak berkenan menerimanya.

Sekali lagi, Yesus tak masuk hitungan. Di Bukit Tengkorak itu orang-orang memperlakukan-Nya sesuka hati. Dia disalib bersama dua penjahat—Yesus dianggap sejahat mereka.

Motivasi Pilatus mempertahankan alasan penyaliban itu—Raja orang Yahudi—bukankah olokan belaka? Dialah raja tanpa rakyat. Rakyat telah menolaknya.

Para prajurit itu pun mengambil keuntungan dengan membuang undi atas jubah-Nya. Jubah Yesus menjadi barang taruhan. Ada perjudian di sana. Mereka tidak memberikan jubah itu kepada sanak keluarga sebagai kenangan. Tidak. Mereka merampasnya.

Meski demikian, Yesaya menyatakan: Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes. 53:5).

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Apa yang terlintas dalam benak Saudara saat memandang salib? Mungkin cuma satu kata: derita. Salib adalah penderitaan. Secara fisik, orang yang disalib menderita. Mustahil manusia tetap hidup setelah menanggung hukuman salib.

Yesus menderita. Dia bukan Superman, juga bukan Gatotkaca. Dia seorang tukang kayu yang beralih profesi menjadi guru. Dia agaknya bukan tipe orang yang melatih otot-ototnya begitu rupa sehingga tahan menderita. Dia manusia biasa. Dan darahlah yang tersembur sewaktu paku menghunjam tangan dan kaki-Nya.

Namun, yang lebih membuat Yesus menderita ialah kenyataan bahwa Dia menjadi barang pajangan. Tontonan. Penderitaan itu sengaja dipertontonkan penguasa Romawi. Penderitaan telah menjadi komoditas.

Di sini terlihat rupa lain kejahatan: saat orang diberi kesempatan melihat dan menikmati derita sesamanya. Mental penjajah tampak jelas di sini: senang melihat orang lain susah dan susah lihat orang lain senang.

Yesaya menyatakan, hamba Tuhan itu—nubuat tentang Yesus orang Nazaret—sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan (Yes. 53:3).

yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 33,869 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: