You are currently browsing the category archive for the ‘Panggilan Insan Merdeka’ category.

Sitou Timou Tumou Tou

Kemerdekaan hanyalah sebuah hak dengan sejuta kewajiban. Manusia merdeka dipanggil untuk memerdekakan orang lain. Kemerdekaan tak layak dinikmati sendiri, tetapi harus dibagikan kepada orang lain yang belum merasakannya.

Dalam buku Burung Berkicau, de Mello berkisah tentang seseorang yang melihat gadis kecil duduk di emperan toko sembari mengemis. Gambaran anak itu membayang di wajahnya. Dia pun berdoa, ”Di manakah keadilan-Mu Tuhan, mengapa Engkau biarkan ini terjadi?” Esok harinya, dia masih melihat pengemis cilik itu. Di rumah dia kembali berdoa, ”Mengapa dia tetap menderita?” Hingga suatu malam dia bermimpi bertemu Tuhan. ”Kebetulan kita bertemu Tuhan. Mengapa Engkau tidak menjawab doaku?” tanyanya cepat. “Bukankah Aku telah menciptakan engkau?” jawab Tuhan singkat.

Manusia bukan makhluk soliter. ”Sitou timou tumou tou,” ungkap Pahlawan Nasional Sam Ratulangi dalam bahasa Minahasa. Artinya: manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. Manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan hidup untuk orang lain.

Itulah panggilan insan merdeka!

– yoel m. indrasmoro


Iklan

Merasa Kaya

Tak perlu menunggu kaya untuk memberi. Dalam kemiskinan seseorang bisa memerdekakan orang lain. Jika nunggu kaya, mungkin kita takkan pernah memberi karena enggak pernah merasa kaya.

Kaya atau miskin sesungguhnya masalah perasaan. Ada orang kaya yang merasa miskin, sehingga tidak pernah memberi apa pun. Bagaimana mungkin memberi kalau dia merasa harus mendapatkan sesuatu dari orang lain?

Sebaliknya, hanya orang yang merasa kayalah yang mampu memberi. Mungkin dia miskin, namun merasa kaya. Perasaan itulah yang membuatnya mampu memberi.

Kala mengenang keluarga Hindu tersebut, Ibu Teresa bersaksi: ”Saya tidak terkejut dengan sikap wanita itu yang mau berbagi, melainkan saya terkejut karena wanita itu masih mau memahami tetangganya yang kelaparan.”

Mau memahami merupakan frasa kunci dalam memberi, yang berawal pada kepekaan nurani. Kepekaan terhadap sekitar memampukan keluarga Hindu itu memberikan sesuatu saat mereka memilikinya.

Soalnya: tak banyak orang yang peka terhadap situasi sekitar, apalagi memahaminya. Ketidakpedulian merupakan persoalan besar dalam diri manusia. Dan kemiskinan, dalam arti merasa diri miskin, kadang menjadi dalih.

Padahal, miskin berarti—mengutip nasihat Nyonya Ogawa kepada anaknya Aiko dalam cerita anak Aiko di Tokyo—tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Dengan kata lain, kita tidak miskin selama masih mempunyai sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain.

Persoalan kemanusiaan Indonesia terbesar sekarang ini ialah lebih banyak orang yang merasa miskin ketimbang yang merasa kaya. Pelaku tindak korupsi kebanyakan bukan orang miskin, melainkan si kaya yang merasa miskin!

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Semasa hidup Ibu Teresa pernah mengunjungi keluarga Hindu miskin. Dalam kunjungannya penerima hadiah Nobel perdamaian itu membawa beras untuk membantu keluarga tersebut. Nyonya rumah menerimanya, membagi beras itu menjadi dua, lalu pergi ke luar rumah.

Ketika wanita itu kembali, Ibu Teresa bertanya ke mana dia pergi  “Ke rumah tetangga,” jawabnya, “mereka juga lapar.”

Insan Merdeka

Ibu Teresa adalah sosok insan merdeka. Dia memperlihatkan jiwa merdeka kala meninggalkan negerinya dan pergi ke India sebagai misionaris. Dia juga menampakkan diri selaku pribadi merdeka saat meninggalkan pelayanan sebagai kepala sekolah dan membuka ladang pelayanan baru dalam kekumuhan masyarakat Kalkuta.

Kisah tadi memperlihatkan kemerdekaan Ibu Teresa sewaktu memberikan beras kepada keluarga dina itu. Memberi kepada orang lain merupakan tindakan insan merdeka. Dia tak lagi terikat dengan benda tersebut. Dia bersikap lepas-bebas terhadap barang yang dimiliki. Dia rela melepas agar orang lain bisa merasakan apa yang dinikmatinya.

Tindakan merdeka itu menular. Keluarga Hindu miskin itu ternyata tak mau menikmati beras sendirian. Mereka teringat kepada tetangga mereka yang juga lapar. Mereka berbagi agar orang lain bisa makan. Keluarga Hindu miskin itu juga insan merdeka. Hati dan pikiran mereka tidak melekat pada beras. Mereka rela melepaskannya. Meski sadar, beberapa hari kemudian mereka mungkin tak lagi punya beras untuk dimakan. Agaknya, mereka tak terlalu hirau masa depan. Saat memiliki beras, mereka ingin tetangga sebelah juga merdeka dari lapar.

Kemerdekaan merupakan sikap hidup. Soalnya: apakah seseorang merdeka terhadap harta miliknya? Menjadi insan merdeka merupakan panggilan insani karena—mengutip sabda Sang Guru—”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Kelekatan akan membuat seseorang tak lagi menjadi tuan, tetapi budak dari harta yang mereka miliki. Ketika harta hilang, jiwa turut melayang bersamanya. Kelekatan sejatinya menurunkan derajat kemanusiaan.

Paradoks: kala manusia merasa memiliki, pada titik itulah dia dikuasai oleh harta miliknya. Kelekatan pada apa pun hanyalah cerminan dari sikap ketergantungan. Dan semua ketergantungan merupakan wajah lain perbudakan.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,862 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: