You are currently browsing the category archive for the ‘Supaya Kamu Erat Bersatu dan Sehati Sepikir’ category.

Persekutuan, bukan Partai

Berkait dengan perjalanan keesaan, kesehatian dan kesepikiran terlihat saat mengubah ”Dewan Gereja-gereja di Indonesia” menjadi ”Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia”. Kata dewan mengesankan ketaksetaraan; ada atasan (elite) dan bawahan (anggota kebanyakan). Kata persekutuan mengedepankan kesetaraan dan keterikatan lahir batin antargereja.

Persekutuan bukanlah penyeragaman. Penyeragaman hanya akan membuat pihak yang berbeda merasa asing. Persekutuan menyiratkan adanya penerimaan terhadap perbedaan. Persekutuan menerima perbedaan dan menolak pembedaan. Dan di atas semua itu, Kristuslah alasnya.

Karena itu, untuk mewujudkan keesaan, biarlah ”P” dalam PGI tetap ”Persekutuan” dan tidak menjadi ”Partai”! Jiwanya persekutuan, bukan penyeragaman! Hanya dengan itulah keesaan tak lagi utopia.

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Jemaat akhirnya terbagi-bagi dalam: ”kelompok Paulus”—kaum liberal—yang mengajak warga jemaat berbuat sesuka hati; ”kelompok Kefas”— kaum legalis—yang mempersoalkan makanan halal dan haram; ”kelompok Apolos”— kaum filsuf—yang merasa memiliki hikmat; dan ”kelompok Kristus”—kaum mistikus—yang menyatakan bahwa sakramen-sakramen bersifat adikodrati.

Menarik disimak, di awal suratnya itu Paulus tidak menempatkan diri sebagai hakim atas kelompok yang berselisih. Dia tidak menyalahkan atau membenarkan pendapat, namun mengajak mereka mengarahkan pandang kepada Kristus.

Kekristenan, mengutip Dietrich Bonhoeffer, berarti persekutuan melalui dan dalam Yesus Kristus. Dalam Kristus, persekutuan merupakan keniscayaan mutlak karena Kristus memang tidak terbagi-bagi. Oleh karena itu, absurdlah tindakan membuat garis pemisah di antara sesama Kristen.

Lagi pula, lanjut Bonhoeffer, persekutuan Kristen bukanlah suatu ideal, tetapi kenyataan ilahi; persekutuan Kristen merupakan kenyataan rohani, bukan psikologis. Dengan kata lain, persekutuan Kristen merupakan karya Allah.

Sehati sepikir

Selanjutnya, Paulus menasihati mereka yang bertikai agar sehati sepikir. Nasihat yang logis karena tak mudah bagi manusia untuk satu hati dan satu pikir. Bukankah rambut sama hitam, pendapat berbeda?

Hati dan pikir merupakan inti kemanusiaan. Hati berkaitan dengan rasa, pikir berkaitan dengan logika. Paulus tidak menekankan salah satu: sehati saja atau sepikir saja. Bukan ini atau itu, namun keduanya sekaligus.

Hanya rasa, akan membuat seseorang takut mengajukan pendapat yang menyinggung orang lain. Hanya logika, mungkin membuat orang lain sungguh-sungguh tersinggung. Oleh karena itu, Paulus menasihati mereka untuk mengupayakan kesehatian dan kesepikiran.

Sewaktu rasa menguasai diri, baiklah pikiran mengendalikannya. Sebaliknya, sebelum mengajukan kritik, baiklah hati bertanya, ”Bagaimana menyampaikannya?” Ketakarifan sering membuat pesan, sebaik apa pun, tak sampai. Sehati sepikir berarti juga memercayai kejernihan pikir dan kebersihan hati orang lain!

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

“Kami anggota-anggota Konferensi Pembentoekan Dewan Geredja-geredja di Indonesia, mengoemoemkan dengan ini, bahwa sekarang Dewan Geredja-geredja di Indonesia telah diperdirikan, sebagai tempat  permoesjawaratan dan oesaha bersama dari Geredja-geredja di Indonesia.”

Demikian manifestasi pembentukan DGI—sejak Sidang Raya X 1984 berubah nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja Kristen di Indonesia (PGI)—yang ditetapkan pada sidang 25 Mei 1950.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Para manifestor menegaskan: ”Kami pertjaja, bahwa Dewan Geredja-Geredja di Indonesia adalah karoenia Allah bagi kami di Indonesia sebagai soeatoe tanda keesaan Kristen jang benar menoedjoe pada pembentoekan satoe Geredja di Indonesia menoeroet amanat Jesoes Kristoes, Toehan dan Kepala Geredja, kepada oematNja, oentoek kemoeliaan nama Toehan dalam doenia ini.”

Dasar pendiriannya ialah kepercayaan bahwa PGI merupakan suatu tanda keesaan, bukan satu-satunya, sesuai amanat Kepala Gereja. Dan kenyataan hidup bergereja di Indonesia memperlihatkan betapa sulitnya menjadi tanda keesaan itu.

Tak heran, berkenaan dengan 58 tahun PGI, gereja-gereja anggota PGI serentak menggunakan Tata Ibadah Minggu yang sama di bawah tema: ”Supaya Kamu Erat Bersatu dan Sehati Sepikir.” (I Kor. 1:10b).

Kristus Tidak Terbagi-bagi

”Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” (I Kor. 1:13). Serangkaian pertanyaan retorik ini merupakan tanggapan Paulus atas perselisihan yang terjadi di jemaat Korintus.

Pada masa itu Korintus merupakan kota pelabuhan penting dan ramai. Menurut John Drane (Memahami Perjanjian Baru), di jalan-jalan kota Korintus, prajurit-prajurit Roma, para mistikus dari Timur, orang Yahudi dari Palestina selalu bertemu dengan para filsuf Yunani.

Ketika Paulus memberitakan Injil di sana, berbagai lapisan masyarakat kosmopolitan itu memberi tanggapannya dengan membentuk jemaat. Orang-orang dengan latar belakang rohani dan intelektual yang beragam itu juga membawa pandangan dan gagasan mereka.

Sewaktu Paulus bersama mereka, keragaman jemaat muda itu bisa dipersatukan. Namun, sejak kepergian Paulus orang-orang Kristen baru itu mulai merenungkan bagi diri mereka sendiri implikasi-implikasi iman Kristen. Dengan sendirinya mereka memperoleh jawaban berbeda-beda. Dan menjadi masalah kala suatu kelompok menganggap diri paling benar.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,298 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: