You are currently browsing the category archive for the ‘Tak Bayar Pajak, Apa Kata Dunia?’ category.

Selanjutnya, Sang Guru dari Nazaret meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan sebagai pembayar pajak. Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Kemudian Yesus bertanya, ”Gambar dan tulisan siapakah ini?”

Pertanyaan itu bermaksud menjernihkan persoalan. Melalui pertanyaan itu, Yesus mengajak sang penanya melihat persoalan dengan lebih dalam. Ketimbang langsung menjawab—boleh atau tidak—yang dilanjutkan dengan argumentasi, Sang Guru mengajak rekan bicara-Nya untuk melihat persoalan secara lebih jernih.

Dengan meminta mereka menunjukkan mata uang yang dipakai sebagai pembayar pajak, Yesus secara dramatis memperlihatkan bahwa mereka menggunakan uang tersebut sebagai alat pembayaran sah. Secara tidak langsung mereka mengakui kewibawaan dan wewenang kaisar.

Sang penanya tak bisa berdalih. Dengan jujur mereka berkata bahwa gambar dan tulisan kaisarlah yang ada dalam uang tersebut. Sekali lagi, mereka terpaksa mengakui kewibawaan kaisar dalam hidup mereka sehari-hari. Pada titik itulah, Yesus berkata, ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Kewargaan Ganda

Maklumat Yesus itu menyatakan dengan jelas bahwa sang penanya memiliki dwikewargaan: warga negara sekaligus warga kerajaan Allah. Dengan lugas, Yesus mengatakan bahwa mereka harus menjalani kehidupan negarawi secara serius. Pemerintah memiliki seperangkat aturan dan setiap warga negara wajib menaatinya.

Pengikut Kristus harus memandang pemerintah itu sebagai manusia yang diberi kesempatan oleh Allah untuk memegang kekuasaan negara. Karenanya, orang Kristen tidak dibenarkan melawan pemerintah secara membabi buta. Mereka tidak boleh begitu saja melawan hukum, yang memang dibuat untuk ketertiban dan pada akhirnya berguna untuk masyarakat secara keseluruhan.

Namun demikian, Yesus juga tidak mau terjerembab ke dalam ketaatan buta terhadap pemerintah. Jawaban Yesus—”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”—gamblang memperlihatkan bahwa keberadaan kaisar sesungguhnya lebih rendah ketimbang Allah. Bukankah Allah yang menciptakan kaisar, dan bukan sebaliknya? Artinya, ketika kaisar melakukan penyimpangan umat Allah wajib menentangnya!

Orang percaya mempunyai alasan yang bertanggung jawab untuk melawan jika dalam melaksanakan kekuasaan negara pemerintah tidak menjunjung kehidupan bersama yang bermartabat manusia. Ketika negara menyeleweng dari fungsinya, kita harus bertindak.

Dan tindakan itu akan berdampak positif jika dan hanya jika setiap Kristen telah memenuhi kewajibannya selaku warga negara—salah satunya—dengan membayar pajak. Dengan kata lain: jangan mendemo pemerintah jika tak bayar pajak!

Lagi pula, jika orang Kristen tak bayar pajak, lalu apa kata dunia?

– yoel m. indrasmoro

Iklan

”Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Demikianlah pertanyaan yang dialamatkan kepada Yesus. Sang Guru dari Nazaret itu tahu, jawabnya bukanlah sekadar boleh atau tidak. Dia juga tahu—terlepas dari keinginan mereka untuk menjerat-Nya—memang ada perbedaan prinsip mendasar di belakang pertanyaan itu.

Sang penanya—para murid Farisi dan pendukung Herodes—mewakili pandangan sebagian besar masyarakat Yahudi waktu itu. Orang Farisi mempercayai bahwa Allah-lah raja mereka. Tanah air yang mereka diami merupakan karunia dan milik Allah. Kalaupun harus membayar, Allah-lah yang paling berhak menerimanya, bukan penjajah. Itulah yang mereka lakukan melalui persembahan persepuluhan. Para pendukung Herodes berpaham sebaliknya. Menolak membayar pajak, akan membuat kekuasaan Herodes—raja boneka pemerintah Romawi—berakhir.

Pertanyaan itu sesungguhnya juga merupakan pertanyaan umat Kristen mula-mula. Bolehkah membayar pajak kepada penguasa kafir, padahal Allah itu Esa? Bukankah dengan membayar pajak, mereka mendukung agama kafir yang menyembah banyak dewa? Kisah percakapan yang dicatat penginjil Matius (Mat. 22:15-22) tak sekadar bicara soal pajak. Dan Yesus berhasil menguraikan persoalan itu melalui komunikasi yang jujur, lugas, dan tegas.

Sikap Berkomunikasi

Menarik dicermati, sang penanya merasa perlu menyampaikan pengakuan bahwa Yesus adalah pribadi jujur, yang dengan jujur mengajar jalan Allah, dan tidak takut kepada siapa pun karena bukan tipe orang yang mencari muka. Pengakuan itu menyiratkan bahwa sang penanya ingin mendapatkan jawaban yang sejujurnya.

Sejatinya, komunikasi tak hanya percakapan antarmulut atau antarotak, melainkan dan terutama ialah percakapan antarhati. Dan percakapan antarhati mensyaratkan kejujuran. Dengan kata lain, jangan harap orang bicara jujur, kalau kita belum bersikap terbuka dan apa adanya.

Dengan tegas Yesus berkata, ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” Yesus bersikap lugas. Dia jujur dengan perasaan-Nya sendiri. Dia tidak merasa perlu menyenangkan hati orang. Lagi pula, sang penanya menuntut kejujuran-Nya! Oleh karena itu, Yesus pun menuntut kejujuran mereka. Dan sang penanya pun diam seribu basa.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,835 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: