You are currently browsing the category archive for the ‘Yerusalem Namanya’ category.

Yesus juga menangisi para pemimpin di Israel masa kini yang sibuk berperang hingga lupa hakikat sebagai pengayom warga negeri. Para pemimpin Israel, dan Palestina sibuk dengan tindakan politis hingga lupa tugas utama: melindungi warganya.

Baik warga Negara Israel maupun Palestina cemas dalam ancaman roket dan bom. Tiada waktu bagi mereka untuk sejenak merasakan damai meski tinggal di kota yang menyandang nama ”damai”.

Yesus juga menangisi kita. Anda dan saya, yang ingin dianggap hebat, relevan, dan berguna. Dia menangisi kita, yang berdalih pelayanan, tak tahunya hanya mencari kedudukan. Melayani agar dihormati. Berkorban agar mendapat upah. Berbakti demi pahala. Yesus menangisi kita, yang sibuk mengurusi diri sendiri, yang sibuk menerangi golongan sendiri, yang sibuk mencari kepuasan pribadi. Yesus menangisi kita, yang lupa memantulkan terang Tuhan bagi sesama, yang lupa hakikat sebagai penerang kegelapan bumi. Yesus menangisi kita yang lupa kewajiban menjadi pendamai.

Akankah kita biarkan Dia terus menangis?

– yoel m. indrasmoro

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun tak mudah mencari kedamaian hati di sana. Yerusalem akan menjadi saksi kisah seseorang yang lebih suka melipat tangan ketimbang turun tangan.

Pilatus, yang punya kuasa turun tangan, terlibat dan menegakkan kebenaran, ternyata lebih suka cuci tangan. Tak peduli urusan orang lain. Tak hirau kejahatan berlangsung di depan mata. Yang penting jabatan gubernur tetap dapat disandangnya. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun damai dimengerti hanya bagi diri sendiri, bagi golongan sendiri, dan bagi kepentingan sendiri. Damai dicari hanya untuk kepuasan pribadi.

Yerusalem, kota yang terletak di atas gunung, tak lebih dari sebuah pelita yang ditutup dengan gantang. Terangnya hanya untuk dinikmati sendiri. Hangatnya hanya untuk dirasakan sendiri. Tak hirau nasib orang lain. Kalaupun beribadah, ya beribadah secara pribadi. Yang penting keselamatan pribadi. Orang lain dilirik, sejauh itu menyenangkan dan membawa keuntungan pribadi. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yesus menangisi Yerusalem. Yesus menangisi Herodes Agung. Yesus menangisi Herodes Antipas. Yesus menangisi alim ulama. Yesus menangisi Yudas. Yesus menangisi Petrus. Yesus menangisi penduduk Yerusalem. Yesus menangisi Pilatus.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Bait Allah terletak di sana, namun ibadah tak lebih dari ajang bisnis belaka.

Halaman Bait Allah sesak dengan gerombolan pedagang yang menawarkan hewan bagi kurban ritus. Belum lagi aturan persembahan yang harus menggunakan uang kudus—tak ada gambar kaisar—hingga perlu didirikan tempat penukaran uang di sana-sini.

Persembahan menjadi utama. Entah persembahan kurban maupun uang. Yang penting persembahan. Tanpa persembahan, ibadah dianggap tak sah di mata Tuhan.

Tuhan dipandang tak ubahnya pedagang. Tuhan memberkati karena persembahan manusia. Janji Tuhan dapat dituntut karena manusia telah memberi persembahan. Tuhan tak beda dengan pemberi jasa, asal manusia sanggup membayarnya. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun semakin sukar mendapatkan damai di sana.

Yerusalem akan menjadi saksi pengkhianatan seorang sahabat, yang rela menggadaikan sebuah persahabatan manis dengan 30 keping uang perak. Yerusalem juga menjadi saksi penyangkalan seorang murid, yang tunduk, takluk, menyerah di tangan seorang perempuan; yang menghapus kenangan manis dengan serapah, ”Aku tidak kenal pesakitan itu!”

Yerusalem akan menjadi saksi betapa cepatnya sebuah keyakinan berubah. Pujian: ”Hosiana!”, berubah cepat menjadi kecaman: ”Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Semuanya itu keluar dari mulut yang sama, yang sekadar ikut-ikutan tanpa prinsip. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Ketika Yesus makin dekat dengan Yerusalem, dan melihat kota itu, Ia menangisinya.

(Luk. 19:41, Alkitab—BIM)

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Namun tak mudah mencari damai di sana.

Herodes Agung pernah bertakhta di singgasana. Dialah yang memerintahkan pembunuhan bayi-bayi di bawah usia 2 tahun. Kaum ibu menangis di Rama karena raja takut kehilangan takhta. Raja takut kehilangan kuasa. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Bagaimana bisa dikatakan damai, jika orang dapat dibunuh kapan saja, dengan atau tanpa alasan?

Yohanes Pembaptis mati bukan karena khotbah, bukan pula karena makar. Namun karena raja malu menarik titahnya. Tabu baginya menelan ludah sendiri. Kepala Yohanes Pembaptis terpenggal di talam, menjadi sajian bagi Herodias, sang permaisuri tercinta. Bagaimana bisa dikatakan damai, jika nyawa dapat direnggut kapan saja? Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

Yerusalem namanya. Kota damai artinya. Tak mudah menemukan damai di sana. Bahkan di Bait Allah sekalipun.

Ahli Taurat dan orang Farisi bercokol di sana. Sibuk menafsirkan Taurat sesuka hati dan menuntut setiap orang menaatinya. Semua-mua harus berbau konstitusional. Yang tak sesuai undang-undang harus dilenyapkan. Undang-undang—berkedok agama—demi kepentingan segelintir orang. Dan karena itulah, Yesus menangisi Yerusalem.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 33,903 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: