You are currently browsing the tag archive for the ‘Hananya’ tag.

Setiap orang harus memilih.

Ada tiga cara untuk memilih.

Cara pertama, yang disebut Jalan Kebijakan.
Pengikut jalan ini bertanya,”Apakah yang bijak untukku? Apakah yang menguntungkan aku?” Selalu menggunakan akal, dan cari kenikmatan sendiri. Selalu mempertimbangkan kepentingan jangka panjang. Walaupun perasaannya juga mempengaruhi pemilihannya, tetapi tidak dikuasai oleh perasaan-perasaan seperti rasa marah, rasa kecewa, rasa lelah, hawa nafsu, dan rasa takut. Ia mengetahui tujuan-tujuan yang paling penting dalam kehidupannya dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Cara kedua, yang disebut Jalan Penyesuaian.
Pengikut jalan ini bertanya,” Apakah yang menyenangkan orang lain? Bagaimanakah pendapat orang lain tentang perbuatanku? Ia berusaha supaya perbuatannya tidak menyakitkan orang lain atau dicela orang lain, melainkan dinilai baik oleh semua orang. Rela berkorban buat orang lain, walaupun tidakmenguntungkan diri sendiri. Jalan penyesuaian biasanya menghasilkan moralitas berdasarkan  pandangan mayoritas.

Cara ketiga, yang disebut Jalan Kebenaran.
Pengikut jalan ini bertanya,”Apakah yang benar menurut kehendak Tuhan?” Patokan yang terpenting dalam keputusan, bukan aku atau orang lain, tetapi Tuhan. Kehendak Tuhan jauh lebih besar dan mulia dari pada kepentinganku. Penglihatan Tuhan jauh lebih agung dan luas dari pada pandangan orang-orang lain.

Hai Pemuda Pilihlah!, Malcolm Brownlee-

Meneropong pilihan Hananya dan Yeremia.
Keduanya diakui sebagai nabi, dan perkataan mereka mempengaruhi seluruh bangsa. Tetapi nubuat mereka ternyata bertolak belakang. Agaknya Hananya adalah nabi palsu, dan nubuatnya hanya karena ingin bisa membikin senang hati orang-orang banyak. Isi nubuatnya “Hanya Mau Enaknya Sendiri”.

Sedangkan Yeremia, nabi Tuhan itu, nubuatnya memang berasal dari Tuhan, meskipun waktu itu tentang perang, malapetaka dan penyakit sampar. Yeremia tidak  bermaksud mau menyukakan hati bangsanya saja. Yeremia mengutamakan yang tadi disebut  Jalan Kebenaran, dia mencari kehendak Tuhan. Maka Tuhan berkenan kepada Yeremia dan menghukum mati Hananya.

-daud adiprasetya

lanjut…

Yeremia namanya. Artinya: kemuliaan Allah. Mungkin, nama diri itulah yang membuatnya setia menjalani panggilan nabi. Seorang nabi niscaya memuliakan Allah. Aneh rasanya, ada nabi yang memuliakan diri sendiri.

Keinginan memuliakan Allah bukanlah tanpa konsekuensi. Di kalangan nabi sezamannya, Yeremia mungkin termasuk nabi yang paling susah karena harus menyatakan kehancuran bangsanya. Di tengah ancaman militer Babel, bukannya memotivasi umat membela bangsanya, dia malah menyatakan kekalahan Israel.

Para pemimpin militer menuduh Yeremia memadamkan semangat juang rakyat. Dia dituduh subversib. Tuduhan itulah yang menjebloskannya ke dalam penjara.

PERTIKAIAN ANTARNABI ALLAH
Bantahan terhadap Yeremia, juga muncul dari kalangan nabi yang tak sejalan dengannya, Nabi itu bernama Hananya. Artinya: anugerah Allah.

Mungkin karena nama yang disandangnya, Hananya merasa Yeremia berdusta. Bagaimanapun, seturut arti namanya, Hananya percaya Allah mengasihi Israel. Dalam pandangan Hananya, Allah tak mungkin membiarkan kehancuran Israel.

Kedua nabi itu sama-sama mengasihi bangsanya. Yang satu menyatakan kehancuran, yang lainnya menyatakan kejayaan. Siapa yang benar?

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 33,903 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: