You are currently browsing the tag archive for the ‘jurnal’ tag.

Di bulan Juni 2007, sebuah iklan kecil di tabloid terbitan Sydney Anglicans,  menarik perhatian saya, “Telling the story of Jesus in every language… Help us to help others… globalrecordings.net Segera saya mengunjungi situs web tersebut, membaca semua artikel. Saya menemukan nama direktur dan alamat kantor Global Recordings Network Australia, bahwa mereka hidup dengan iman tanpa gaji tetap. Ternyata satu set gambar “Kabar Baik” yang saya miliki dan pakai selama lebih dari 20 tahun itu diterbitkan oleh mereka. Esoknya saya menelpon direkturnya, beliau mengundang saya untuk mengunjungi kantor GRN.

12 Juni 2007, saya dijemput di halte bis, lalu beliau membawa saya tour keliling kantor dan menjelaskan apa yang mereka kerjakan selama ini. Pertemuan itu diakhiri dengan pernyataan beliau, “Actually, if you want to do something for Indonesia, you can do more here than in Indonesia.” Sejak itu saya bekerja sebagai sukarelawati di situ, membuat naskah untuk anak Indonesia, untuk kemudian diproses menjadi rekaman audio dan audiovisual bersama mereka.

Dalam minggu yang sama, saya diterima bekerja di sebuah perusahaan distribusi perhiasan yang ternama di Australia. Diterima magang di gereja Anglican di MacQuarie. Juga diterima kuliah malam di Institute of Languages, Universitas New South Wales. Tuhan sungguh baik.

Mendadak sontak Indonesia beralih jadi tujuan di depan. Saya melangkah penuh harapan, dengan hati untuk Indonesia, dengan hati tetap di Indonesia.

– eva kristiaman

(bersambung)

Iklan

Jakarta, 1 Desember 2006. Saya berada dalam pesawat yang lepas landas meninggalkan tanah air dengan berbekal lagu ini di hati:

“Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh,
Ku dibimbing tangan Tuhan, ke negeri yang tak ku tahu,
Bapa ajar aku ikut, apa jua maksud-Mu,
Tak bersangsi, atau takut, beriman tetap teguh.

Dengan Bapa aku maju dalam malam yang kelam,
Ku dibimbing tangan Tuhan dengan mata terpejam.”

Dengan tiket sekali jalan, saya sungguh tidak tahu kapan akan kembali ke tanah air yang sangat saya cintai.

Sydney, 2 Desember 2006. Pesawat yang saya tumpangi mendarat dan saya melangkah dibimbing Tangan Tuhan menapakkan kaki di negeri ini. Tanpa uang, pekerjaan, dan rencana yang jelas, … benar-benar kelam. Tapi tetap harus melangkah maju.

Kaki saya melangkah maju tapi dengan duka yang mendalam. Serba salah, pesan menguatkan yang dikirim para sahabat dari tanah air malah membuat hati hancur berkeping karena rindu. Bagaimana bisa berjalan maju sambil menoleh ke belakang.

– eva kristiaman

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,298 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: