You are currently browsing the tag archive for the ‘kalajengking dan kodok’ tag.

Sang kalajengking berusaha menenangkan si kodok dengan berkata,”Apakah kau pikir aku binatang yang tidak tahu berterima kasih?” Mendengar jawaban sang kalajengking akhirnya si kodok setuju. Dengan menggendong sang kalajengking, mereka berdua menyeberangi sungai yang deras itu. Di tengah perjalanan, alangkah kagetnya sang kodok ketika ia merasa ada benda tajam yang menusuk pundaknya dan seketika ia merasa tubuhnya mulai kaku. Dengan perasaan kesal dan pasrah ia menoleh ke belakang dan melihat sang kalajengking baru saja mengeluarkan sengatan dari belakang tubuhnya.

Sang kodok berdesah lemah,”Hai kalajengking, alangkah bodohnya engkau menyengat teman yang ingin membantumu, sekarang kita berdua akan mati, mengapa engkau melakukan hal bodoh ini?” Dengan muka pasrah dan malu sang kalajengking menjawab, ”Maaf sahabatku, memang dari dulu inilah kebiasaan burukku yang sulit diubah.” Akhirnya mereka berdua perlahan-lahan tenggelam ke dalam sungai.

-Success Journey-

Pesan dari cerita di atas

Pengakuan si kalajengking sangat menarik, bahwa sedari dulu dia mempunyai kebiasaan buruk yang sulit diubah. Memang kita sudah menjadi anak tebusan Tuhan, tetapi watak, kebiasaan buruk, pengaruh pendidikan yang salah, pergaulan, lingkungan, hati nurani yang mulai tumpul, situasi sesaat, dan mungkin masih ada lagi, semua itu patut disadari dan diwaspadai.

Kalau tidak, tahu-tahu kita tak ubahnya dengan orang jahat. Dua hari yang lalu di depan mata saya ada seorang anggota gereja yang meninju teman seimannya, hanya karena persoalan kecil, sampai wajahnya bengkak dan hidungnya mengucur darah. Ironis sekali terjadi sesudah kebaktian Pentakosta!

Ingat, kita sudah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran, serta hamba Yesus Kristus Sang Kebenaran itu!

Mari kita menyatu dengan Kristus.

Jangan hanya mau menikmati segala “fasilitas-Nya” tetapi tidak bersedia hidup dalam ketaatan, segan menjalankan panggilan-Nya sebagai seorang pengikut sejati. Ketahuilah, barangsiapa menyambut Kristus menyambut Bapa, dan barangsiapa menyambut kita maka bisa berarti menyambut Kristus, yaitu jika kita mau menyelaraskan hidup kita dengan Kristus.

Kami pernah mempunyai seorang pelayan asal desa, yang sangat aneh. Dia menyangka Tan Tjing Kie (alm) temanku yang ekonom itu sebagai pak pendeta, dan menyangka Pdt Tan King Hien (alm) sebagai Tuhan Yesus!

Di mata masyarakat luas apakah Anda cukup berharga untuk menjadi murid Tuhan, dan terutama di mata Tuhan Yesus. Sebab Dia mau menjadikan kita kepanjangan tangan-Nya. Pemazmur berkata, “Engkau telah berkata: ‘Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihanKu, . . . .’” Mazmur 89:4

-daud adiprasetya

Sesudah di bawah kasih karunia, mau enaknya sendiri?

Tuhan Yesus sudah menebus kita dan sekarang kita tidak lagi dibayang-bayangi oleh Hukum Taurat. Kita tidak perlu seperti para Ahli Taurat dan Farisi yang berjuang melakukan Hukum Taurat supaya beroleh selamat. Kita sudah menjadi orang merdeka, sebab berada di dalam iklim kasih karunia Tuhan.

Tetapi  kita harus selalu waspada terhadap diri kita sendiri! Kebahagiaan kita sebagai anak-anak tebusan Tuhan, bisa membuat kita menjadi sombong dan mau seenaknya sendiri saja. Kita beranggapan bahwa Tuhan sudah jelas mengasihi kita, lalu dengan seenaknya kita berbuat dosa lagi. Padahal kita tidak dijadikan anak-emas Tuhan, tetapi anak Tuhan.

Selama berada di dunia ini kesempatan berbuat dosa selalu ada, tetapi tidak berarti kita boleh menikmati berkat Tuhan sambil menikmati manisnya dosa. Kalau sudah menjadi hamba seseorang harus taat kepadanya (Roma 6:16).

Ada cerita menarik tentang seekor binatang yang seenaknya saja berbuat jahat.

Pada suatu hari seekor kalajengking yang telah lama hidup di atas gunung memutuskan menikmati petualangan yang lebih menantang serta ingin menyusuri bagian lain dari dunia ini. Setelah pergi meninggalkan sarang dan beberapa hari masuk ke dalam hutan, sampailah ia di tepi sungai yang deras arusnya. Sang kalajengking berhenti terpana karena ia tidak mampu berenang menyeberangi sungai itu. Setelah lama mencari akal akhirnya ia merasa putus asa dan mengambil keputusan untuk berbalik pulang ke rumah.

Tiba-tiba ia melihat seekor kodok sedang asyik berjemur di atas batu besar. Ia kemudian memutuskan untuk meminta pertolongan sang kodok. Dengan suara yang bersahabat, sang kalajengking menyapa si kodok, ”Tuan Kodok yang budiman apakah kau sudi menggendongku menyeberangi sungai ini, agar aku dapat melanjutkan petualanganku?” Namun sang kodok menjawab dengan ragu,”Tuan Kalajengking, bagaimana aku tahu bahwa niatmu tulus, bagaimana kalau ketika aku membantu, kau malah menyengatku sampai mati?”

Sang kalajengking tertawa dan berkata,”Tuan Kodok janganlah takut hal itu bisa terjadi, karena jika aku menyengatmu, aku juga akan mati tenggelam di sungai karena aku tidak dapat berenang.” Sang kodok merasa hal itu masuk akal namun kembali bertanya kepada sang kalajengking,”Bagaimana kalau sudah hampir sampai ke pinggiran baru kau menyengatku?” 

-daud adiprasetya

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 33,869 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: