You are currently browsing the tag archive for the ‘Kepemimpinan’ tag.

Pertama, Mengapa penduduk desa tidak memilih untuk menolak dengan tegas ketika ditawari insentif, sebab memerangi tikus adalah untuk kepentingan mereka sendiri?

Kedua, Mengapa Kepala Desa tidak memilih cara yang sehat, yaitu menyadarkan penduduk dan memberi dorongan kepada mereka untuk melestarikan kemakmuran desa?

Ketiga, Dalam keadaan yang sangat memperihatinkan itu bagaimana mungkin bisa muncul segelintir orang yang memilih untuk beternak tikus daripada menanam padi? Mereka yang malas, egois dan rakus seperti tikus itu patut ditegur keras atau dihukum.

Musa seperti Kepala Desa yang menghadapi wabah tikus?
Memang sama-sama sebagai pemimpin, tapi kepemimpinan Musa jauh lebih mantap tentunya. Dia memimpin sebuah bangsa yang besar, umat yang dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui perjalanan panjang 40 tahun lamanya. Jika Kepala Desa tadi kebingungan menghadapi tikus-tikus ganas yang tersebar ke segala pelosok desa, maka Musa lain lagi. Dalam matanya Musa melihat nasib bangsanya yang penuh teka-teki, bangsa besar yang belum mempunyai sejengkal tanah untuk dihuni itu, akan hidup atau mati? Musa sendiri sudah tahu bahwa ajalnya tak lama lagi, tapi dia akan hidup bersama Tuhan di sorga, bagaimana dengan umat dan bangsa yang ia kasihi seperti anaknya sendiri ini? Jika ditinggal pergi nanti, akankah mereka itu bertahan sebagai umat Tuhan? Sebab begitu seringnya mereka itu berpaling dari Tuhan dan terpikat kepada ilah lain.

– daud adiprasetya

lanjut…

Iklan

GEMBALA SEJATI
Dalam mazmurnya, Daud memperlihatkan sikap dan tindakan Allah sebagai gembala. Dalam pandangan Daud, Gembala Sejati senantiasa mencukupi kekurangan domba-domba-Nya—baik jasmani maupun rohani. Daud mengaku: ”TUHAN bagaikan seorang gembala bagiku, aku tidak kekurangan.” (Mazmur 23:1, BIMK).

Para pemimpin masa kini, yang dipercaya Allah memimpin umat-Nya, perlu meneladani sikap dan tindakan Gembala Sejati. Mencukupi kekurangan umat bisa dijadikan semboyan hidup kepemimpinan.

Kekurangan tentu bisa beragam bentuknya— tunaaksara, tunabusana, tunadaksa, tunagizi, tunakarya, tunasosial, tunasusila, tunapolitik, tunawisma, dan masih banyak lagi. Intinya: tunakasih dan tunapengharapan. Para pemimpin masa kini perlu belajar dari Yesus, Sang Guru, untuk lebih peka terhadap orang yang dipimpinnya.

Penulis Injil Markus mencatat: ”Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34).

Tak hanya itu. Yesus pun akhirnya memberi makan orang banyak itu. Semuanya itu bersumber dari hati penuh kasih. Dan hati penuh kasih itu digerakkan oleh satu kegiatan fisik: melihat.

Yesus melihat. Guru dari Nazaret itu tidak menutup mata. Mata-Nya senantiasa terbuka. Keterbukaan mata itulah yang membuat-Nya mampu memahami keadaan orang banyak itu. Kepedulian biasa berawal dari keinginan untuk senantiasa membuka indra penglihatan.

Yesus melihat; bahkan melihat lebih dalam. Dia tidak langsung menutup mata setelah menyaksikan keadaan orang banyak itu. Dia tetap ingin membuka mata-Nya.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (Yeremia 23:1).

Demikianlah kecaman Allah kepada para pemimpin Israel karena mereka membiarkan umat Allah hilang dan terserak. Mereka hanya mengutamakan kepentingan sendiri.

Pada masa itu, menurut Derek Kidner, walau raja memiliki kuasa yang besar, penanganan urusan-urusan kecil biasa diserahkan kepada bawahannya. Dengan demikian, pada kejujuran dan ketekunan atau keculasan dan kemalasan para bawahanlah tergantung kesejahteraan atau kesengsaraan warga negara. Para bawahan itu lazim disebut gembala-gembala.

GEMBALA PALSU
Sejarah menunjukkan hebatnya godaan terhadap para penguasa—baik ditingkat tinggi maupun rendah—untuk menyalahgunakan jabatan. Itulah yang dikritik Allah dalam nubuat Yeremia!

Di mata Allah, para pemimpin Israel itu lupa hakikat selaku gembala. Mereka melihat para pengikutnya hanya sebagai objek. Objek yang dapat diperlakukan sekehendak hati mereka. Mereka lupa tugas sebagai gembala.

”Gembala” adalah kata dasar; kata kerjanya ”menggembalakan”. Kata kerja itu mengandaikan ada yang digembalakan. Tetapi apa mau dikata, mereka tidak memelihara domba-domba itu. ”Gembala” hanyalah jabatan tanpa tindakan. Mereka adalah gembala-gembala palsu.

Kalaupun bertindak, jauh melebihi wewenangnya. Meski hanya ”gembala”, mereka bertingkah laku seperti pemilik. Mereka lupa, mereka adalah orang  yang dipercaya sang pemilik domba sebagai gembala. Jelaslah, mereka telah menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Allah tak hanya menuntut pertanggungjawaban, tetapi juga menjatuhkan vonis: ”Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan- yang jahat, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 23:2).

Ketika para gembala tak lagi melaksanakan mandat dengan baik, Allah mengambil tugas itu. Allah mengambil domba-domba-Nya yang dipercayakan kepada mereka. Tindakan logis. Tiada guna memberikan kepercayaan kepada orang yang tak layak dipercaya.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

”Amos sedang berkomplot dengan rakyat melawan Baginda. Kata-katanya yang menghasut rakyat akan menyebabkan negeri ini hancur. Ia berkata bahwa Baginda akan mati dalam pertempuran, dan orang Israel pasti diangkut ke pembuangan, jauh dari negerinya sendir” (Amos 7:10-11, BIMK).

Pesannya singkat; mirip SMS. Arti pesan itu gamblang: Amos bertindak makar. Pesannya bukan sembarang pesan. Pesan dikirim oleh Amazia, seorang imam di Betel, kepada Yerobeam, raja kerajaan Israel Utara. Pesan itu analog dengan surat menteri agama kepada presiden. Sifatnya: penting dan sangat rahasia.

NUBUAT AMOS
Memang demikianlah keadaannya. Amos bernubuat, sang raja akan terbunuh oleh pedang dan rakyatnya akan menjadi budak di negeri asing. Nubuat itu memicu kebingungan dan keresahan masyarakat.

Rakyat bingung karena Israel Utara, sekitar abad ke-8 sM, tengah berada di puncak kejayaan. Banyak orang hidup makmur, ibadah marak, dan negeri tampak damai.

Nubuat Amos membuat rakyat bertanya-tanya: ”Bagaimana mungkin, negara yang tampak damai dan makmur itu bisa kalah perang; malah dibuang ke negeri lain?” Nubuat itu meresahkan masyarakat—berujung pada instabilitas negeri.

Namun, Amos punya alasan kuat. Di mata Allah, umat Israel telah menyimpang. Mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Keadaan Israel cukup makmur. Tetapi, yang menikmati hanya segilintir hartawan yang memperkaya diri dengan memeras orang miskin. Kebanyakan orang beribadah, tetapi bukan dengan hati. Ibadah cuma rekayasa.

Keberadaan itulah yang menyebabkan Amos bernubuat. Amos menyerukan agar keadilan mengalir seperti air. Ia berkata: ”Mungkin TUHAN akan mengasihani orang-orang yang tersisa dari bangsa Israel.” (Amos 5:15).

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

Pada waktu itu, di tengah suasana perang, kebenaran bukanlah sesuatu yang penting. Tak seorang pun menyukai kekalahan. Buat apa perang kalau harus kalah!

Wajarlah jika para pemimpin Israel lebih suka mendengarkan Hananya ketimbang Yeremia. Mereka lebih suka mendengarkan hal yang enak didengar telinga.

Namun, Yeremia tetap menyatakan apa yang benar. Benar dalam pandangan Yeremia ialah sesuatu yang berasal dari Allah. Yeremia tidak mau berubah pandangan. Dia—sebagai Jurubicara Allah—tetap menyatakan kehendak Allah. Yeremia menyatakan, raja sebaiknya menyerah.

Sebaliknya, Hananya berkata, ”Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.” (Yer. 28:2-3).

Yeremia pun langsung menukas, ”Bagus! Mudah-mudahan saja ramalanmu itu menjadi kenyataan, dan TUHAN betul-betul membawa kembali dari Babel barang-barang Rumah TUHAN bersama dengan semua orang yang telah dibuang ke sana.” (Yer. 28:6, BIMK).

Dalam ucapan Yeremia tersirat, kesejatian nabi tampak kala nubuatnya nyata. Dengan kata lain, Yeremia menyatakan biarlah waktu yang membuktikan siapa nabi Allah sejati: Hananya atau Yeremia.

JURUBICARA ALLAH
Sejarah membuktikan Yeremia benar. Sejarah membuktikan pula bahwa Yeremia sungguh mengasihi bangsanya. Namun, sebagai Jurubicara Allah, Yeremia harus mengumandangkan suara Allah. Dia tak boleh mengumandangkan suara hatinya sendiri. Dia juga tak boleh mengumandangkan apa yang orang ingin dengar. Dia hanya boleh mengumandangkan suara Allah.lanjut…

Jurubicara Allah tak ubahnya loudspeaker—pengeras suara Allah. Dia harus mengatakan kehendak Allah. Tak lebih dan tak kurang. Dia tidak boleh bertindak selaku editor yang mengedit suara Allah, agar pendengarnya senang. Dia juga tidak boleh bertindak selaku penyadur, yang menyesuaikan suara Allah dengan telinga pendengar. Tidak. Dia harus menyatakan kehendak Allah.

– yoel m. indrasmoro

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,862 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: