You are currently browsing the tag archive for the ‘Memilih’ tag.

Pengikut Kristus harus mengakui dan menghormati hak setiap orang untuk menentukan bagi dirinya sendiri agama yang hendak dipilih dan dianutnya. Di dalamnya tentu terkandung penghargaan atas kebebasan berpindah agama.

Kesadaran religius manusia memang tak musnah karena dosa. Namun, agama itu sendiri diciptakan manusia dalam kondisi dosa—manusia telah kehilangan persekutuan sejati dengan Allah. Dan agama-agama dapat menjadi ”benih awal” bagi manusia untuk menoleh kepada Yesus Kristus. Hanya dengan percaya kepada-Nya, manusia sampai kepada Allah.

”Kisah Orang Majus dari Timur” bisa menjadi contoh. Berdasarkan pengetahuan dan agama yang dianut, orang Majus tidak mempedulikan jarak, rintangan, dan bahaya, pergi ke Yerusalem untuk menyembah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Mereka memahami bahwa Yesus lebih berkuasa dari raja-raja di dunia Timur. Mereka menyatakan ketaklukkan mereka dengan sujud dan mempersembahkan mas, kemenyan, dan mur.

Agama sendiri tidak menyelamatkan. Keselamatan, dalam pengertian pulihnya hubungan antara manusia dan Allah, hanya diperoleh di dalam penyelamatan yang dilakukan Allah sendiri. Di sinilah keunikan agama Kristen.

Agama Kristen diciptakan sebagai suatu sistem kehidupan religius berdasarkan penyelamatan Allah atas manusia. Keselamatan dipahami bukan karena upaya manusia, tetapi semata-mata karya Allah.

Karena itulah, bagi seorang Kristen, agama yang dianutnya merupakan wadah bahwa ia telah menerima penyelamatan Allah, sekaligus wadah untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah berdasarkan penyelamatan Allah itu.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Langkahku bersama TUHAN hari ini

Berulang kali, sibuk untuk Tuhan
Sadar maupun tak sadar
Merebut, menggeser, menggantikan
Pilihan untuk memilih seperti Maria bukan Marta.

Benar, seperti pergumulan terus-menerus
“Bukan apa yang kukehendaki, yaitu apa yang baik
Yang kulakukan, melainkan yang sebaliknya,
Yang tidak kukehendaki, yang aku lakukan.”

Tahu, bahwa memilih seperti Maria tergolong
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,”
Sedangkan memilih seperti Marta tergolong
“maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

Paham, bahwa memilih seperti Marta hasil akhirnya
“Enyahlah, Aku tidak kenal engkau” kata Tuhan
Sedangkan memilih seperti Maria di hari terakhir nanti
Tuhan berkata, “Engkau adalah hamba-Ku yang setiawan.”

Mengapa tidak bertekun dan teguh
Memilih seperti Maria? Aku mau Tuhan, tolonglah aku!

– eva kristiaman

(bersambung)

– Percakapanku dengan TUHAN

Betapa sering dan mudah
Memilih seperti Marta bukan Maria
Mengapa?
Karena konsep ‘melayani’ yang keliru

Melayani pelayanan Tuhan
Sibuk dengan berbagai kegiatan
Yang menyita waktu dan tenaga
Hingga tidak punya waktu

Untuk satu yang perlu
Kata Tuhan
Duduk dekat kaki-Nya
Dan mendengarkan perkataan-Nya

Hanya itu yang Tuhan inginkan dariku
Duduk dekat kaki-Nya
Dan mendengarkan perkataan-Nya
Mengenal Dia dan isi hati-Nya.

– eva kristiaman

(bersambung)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Perempuan  itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,

sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

(Lukas 10:38-42, LAI)

Melayani Yesus itu sebuah pilihan hidup
Marta memilih untuk melakukan banyak hal buat Yesus
Ia “sibuk sekali melayani”
Itu baik tetapi ada yang lebih baik.

Maria memilih duduk dekat kaki Tuhan
Dan terus mendengarkan perkataan-Nya
Tuhan mengatakan hanya satu saja yang perlu:
Maria telah memilih yang lebih baik.

Pilih yang tidak akan diambil dari kita!
Duduk dekat kaki Tuhan
Dan terus mendengarkan perkataan-Nya.

Bersibuk ria walau untuk Tuhan bukan yang utama
Itu hanya kuatir dan menyusahkan diri belaka
Kata Tuhan.

– eva kristiaman

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.613 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 42.642 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: