You are currently browsing the tag archive for the ‘Musa’ tag.

Apakah Tuhan masih sanggup mengasihi umat-Nya?
Tema “Dosa Dan Pengampunan Allah Yang Besar”, dapat menimbulkan pertanyaan: Siapa sebenarnya yang besar, Allah atau pengampunan-Nya? Kalau bikin bingung, maka katakan saja: Pengampunan yang besar dari Allah yang besar. Karena Allah itu besar, maka pengampunan-Nya juga pasti besar, sehingga akan sanggup mengampuni dosa yang besar!

Kita harus merasa kagum terhadap kebesaran hati Tuhan dengan cara begini: Lihatlah Musa sebelum turun dari gunung Sinai, ia sudah diberitahu sepintas oleh Tuhan bahwa umat-Nya akan dibinasakan karena dosa mereka yang besar. Menanggapi rencana Tuhan itu maka Musa segera memohonkan ampun bagi umat Tuhan dengan segala daya dan upaya. Tetapi, sesudah Musa turun dari gunung dan menyaksikan sendiri dosa seperti apa yang mereka lakukan, maka ia menjadi sangat geram dan langsung menyuruh bani Lewi untuk membunuh sejumlah besar pendosa-pendosa itu.

Dan lagi, meskipun umat Israel sudah melakukan pelecehan terhadap Pribadi dan segala kebaikan-Nya selama ini, namun Tuhan sempat menyesal juga bahwa Ia telah merencanakan hukuman atas mereka, “Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” (Keluaran 32:14)

Timbul pertanyaan penting sekarang, “Mengapa Tuhan tidak menegur Musa yang menyuruh bani Lewi membunuh tiga ribu pendosa itu?” Pertanyaan itu harus dijawab demikian, “Karena Musa adalah pemimpin bangsa yang sudah diberi hak oleh Tuhan untuk melakukan tindakan tegas, yang sejalan dengan kehendak dan keadilan-Nya.” Maka ketika Musa menunjukkan toleransinya dengan bersedia dihapus namanya dari Kitab Tuhan sekiranya Tuhan tetap akan membinasakan umat Tuhan yang lainnya, dengan tegas Tuhan menyatakan tidak setuju! Dalam Keluaran 32:33 Tuhan menekankan keadilan-Nya bahwa yang berdosa yang harus menanggung akibatnya. Selanjutnya Tuhan bersedia menunda hukuman untuk umat-Nya.

Kita lihat di sini bahwa dalam kasih-Nya, tetap terdapat kesucian dan keadilan-Nya. Jadi, bersama umat Tuhan pada zaman dahulu kita semua berhadapan dengan Tuhan yang kasih-Nya utuh, yaitu kasih yang selalu terkait dengan sifat-sifat Tuhan yang lain. Ternyata Tuhan juga bukanlah Allah yang mau mengobral kasih dan pengampunan-Nya. Karena apa? Karena kasih dan pengampunan-Nya yang besar itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah Anak Domba Allah yang kudus, Putera Tunggal Allah yang terkasih, yang sudah inkarnasi menjadi manusia Yesus Kristus Juru Selamat dunia.

– daud adiprasetya

lanjut…

Iklan

Partai-partai telah menyerahkan daftar caleg ke KPU untuk bersaing dalam pemilu 2009. Ada muka lama, tak sedikit muka baru. Makin banyak partai yang menampilkan artis sebagai caleg. Tujuannya: memenangkan pemilu.

Mereka menganggap wajah yang dikenal luas—sering muncul di layar televisi—bisa menjaring suara. Para artis pun tersanjung karena dipercaya mampu memimpin dan berjiwa nasionalis. Mutualisme terjadi. Kloplah!

Kekuasaan memang menggiurkan karena terkandung beragam fasilitas di dalamnya. Adanya anggota DPR yang ”lompat pagar” gamblang memperlihatkan keinginan mengabadikan kuasa. Ujung-ujungnya fasilitas!

Dalam jagad kepemimpinan Indonesia, ungkapan Perancis noblesse oblige ’kewajiban bangsawan terhadap rakyat jelata’ agaknya belum menjadi prinsip. Kepemimpinan sejatinya bukan hanya soal kuasa. Pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya.

Dengan kata lain: setiap pemimpin dipanggil untuk menjadi berkat, bukan mencari berkat! Krisis kepemimpinan terjadi tatkala yang memimpin mencari—bahkan memeras—berkat dari yang dipimpin.

Kepemimpinan Musa

Kisah pemanggilan Musa (Kel. 3:1-15) memperlihatkan bahwa kepemimpinan merupakan panggilan. Musa tidak melamar—mengajukan diri—untuk menjadi pemimpin. Dia dipanggil Allah untuk memimpin Israel. Dan Musa menanggapi panggilan tersebut.

Menjadi pemimpin berarti menjawab sebuah panggilan. Karena itu, pemimpin harus bersikap dan bertindak profesional. Tak perlulah kita menyempitkan arti profesional dengan bayaran yang diterima.

Karena sadar akan panggilannya, setiap pemimpin harus mengembangkan diri agar cakap memimpin. Profesional berarti cakap di bidangnya. Kata ”profesional” sekerabat dengan ”profesor”— harfiah bermakna orang yang menyatakan imannya. Panggilan meniscayakan pemimpin menjalankan kewajiban sebagai pernyataan iman.

Pemanggilan Musa juga memperlihatkan, Allah tidak memanggil seorang penganggur untuk terlibat dalam karya-Nya. Musa dipanggil Allah ketika sedang menggembalakan kambing domba Yitro. Dia tidak sedang bertopang dagu, melainkan sibuk bekerja.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Blog Stats

  • 34,298 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: