You are currently browsing the tag archive for the ‘pemimpin’ tag.

Baru hitungan bulan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menjadi salah satu kandidat calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2012. Namun demikian sudah hitungan puluhan tahun Ahok terlahir sebagai keturunan Cina dan beragama Kristen. Tak pelak lagi keberadaan lahiriah yang tak bisa ditolaknya, telah membuatnya diserang dengan isu agama dan ras, terutama memasuki pemilihan putaran kedua 20 September 2012 yang akan datang.

Haruskah seseorang ditolak karena eksistensinya sebagai ‘cina’ dan kristen? Benarkah negeri ini hanya diperuntukkan bagi ras, suku dan agama tertentu saja?

Indonesia memang negeri mengherankan. Manusia seolah dihitung berdasar angka saja, sehingga bisa ditentukan siapa mayoritas dan minoritas, bukan berdasar kualitasnya. Walau manusia secara hakiki adalah sama dihadapan Tuhan, tapi orang-orang yang melabelkan dirinya agamawan telah menjadi tuhan baru dengan semua titahnya. Bahkan penyanyi dangdut Rhoma Irama mampu berujar, “Kita tak boleh dipimpin oleh orang non muslim sebab mereka adalah kafir!” Duh, aku dan mungkin kamu, disebut kafir! Mengenaskan hidup di negeri ini.

Menarik ketika diskusi awal Agustus lalu, Ahok berkata, “Orang kristen jangan begitu saja pilih saya. Periksa dulu apakah saya pengikut Yesus atau pengikut Yudas?” dua tokoh ‘Y’yang berbeda jalan sejarahnya. Kalau Yesus bertindak adil tanpa suap, maka Yudas berorientasi pada uang. Ingat, ketika Yudas menjual Yesus demi beberapa keping mata uang.

Pernyataan Ahok bukan untuk perjuangannya memenangkan Pilkada, tapi hasratnya yang menjadi obsesi bersama, agar orang tak memilih seseorang karena agama, suku atau berdasarkan ras.

Melalui Pilkada Jakarta hendak dicapai kesejatian Indonesia, bahwa kelak kompetisi haruslah didasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan integritas seseorang. Ini bukan mimpi. Proses ini sedang terjadi dan harus terus didorong dengan aktif untuk menghidupkan terus keadilan, kesetaraan dan prinsip non diskriminatif.

Karena itu kita hentikan labelisasi agama yang mendorong agamawan memilih-milih seseorang berdasarkan kesamaan agamanya. Sebaliknya, pilihlah seseorang siapapun dan darimana asalnya, dan apapun agamanya, berdasarkan karakternya “Yesus” dan bukan seorang dengan sifat-sifat “Yudas”.

Selamat datang pemimpin Jakarta!

– Marim Purba

Iklan
Pelajaran apa yang dapat kita ambil?

Pertama, Jika kita menjadi seorang pemimpin; dalam keluarga, dalam jemaat, kantor dan di manapun, upayakan untuk dapat menyatu dengan mereka yang kita pimpin serta memperjuangkan kepentingan mereka dengan penuh ketulusan hati.

Kedua, Tingkatkan terus kecerdasan memilih yang memberi “hidup” daripada yang membawa  “kematian”. Ingat, kalau-pun kita tidak mau memilih, maka itu sudah berarti memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.

Tetap masih harus memilih, meski sudah memilih
Orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti Yesus saat itu tidak secara otomatis sudah menjadi murid-Nya. Jika ingin menjadi murid-Nya maka mereka harus membenci keluarga dekatnya bahkan nyawanya sendiri.

Sudah jelas bahwa di sini, Tuhan Yesus tidak sedang menganjurkan untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, terhadap keluarga dan hidup kita. Dia hanya mau menekankan bahwa murid-Nya harus memiliki kasih yang kuat kepada Yesus Kristus. Barang siapa mau menjadi murid-Nya maka ia harus mengutamakan persekutuan secara pribadi dengan Yesus, melebihi apa dan siapapun dalam hidupnya. Karena di dalam Yesus Kristuslah terdapat segala sesuatu yang terbaik. Termasuk pelajaran-Nya mengenai bagaimana seharusnya sikap kita terhadap anggota keluarga, yang menjadi sesama terdekat dan terhadap diri sendiri.

Setiap kali diperdengarkan Firman-Nya ini berarti panggilan-Nya sedang ditujukan kepada yang mendengarnya. Panggilan Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya ini seharusnya kita tanggapi dengan penuh rasa syukur, sebab merupakan peluang emas untuk ditindaklanjuti, misalnya dengan mengikuti kateksasi lalu menerima sakramen Baptis Kudus. Mengikuti Pemahaman Alkitab, terjun dalam kegiatan gerejawi dan seterusnya.

– daud adiprasetya

lanjut…

Pertama, Mengapa penduduk desa tidak memilih untuk menolak dengan tegas ketika ditawari insentif, sebab memerangi tikus adalah untuk kepentingan mereka sendiri?

Kedua, Mengapa Kepala Desa tidak memilih cara yang sehat, yaitu menyadarkan penduduk dan memberi dorongan kepada mereka untuk melestarikan kemakmuran desa?

Ketiga, Dalam keadaan yang sangat memperihatinkan itu bagaimana mungkin bisa muncul segelintir orang yang memilih untuk beternak tikus daripada menanam padi? Mereka yang malas, egois dan rakus seperti tikus itu patut ditegur keras atau dihukum.

Musa seperti Kepala Desa yang menghadapi wabah tikus?
Memang sama-sama sebagai pemimpin, tapi kepemimpinan Musa jauh lebih mantap tentunya. Dia memimpin sebuah bangsa yang besar, umat yang dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui perjalanan panjang 40 tahun lamanya. Jika Kepala Desa tadi kebingungan menghadapi tikus-tikus ganas yang tersebar ke segala pelosok desa, maka Musa lain lagi. Dalam matanya Musa melihat nasib bangsanya yang penuh teka-teki, bangsa besar yang belum mempunyai sejengkal tanah untuk dihuni itu, akan hidup atau mati? Musa sendiri sudah tahu bahwa ajalnya tak lama lagi, tapi dia akan hidup bersama Tuhan di sorga, bagaimana dengan umat dan bangsa yang ia kasihi seperti anaknya sendiri ini? Jika ditinggal pergi nanti, akankah mereka itu bertahan sebagai umat Tuhan? Sebab begitu seringnya mereka itu berpaling dari Tuhan dan terpikat kepada ilah lain.

– daud adiprasetya

lanjut…

Guru dari Nazaret itu tak hanya asal melihat. Dia tidak melihat orang banyak itu sebagai kumpulan. Lebih jauh, Yesus melihat orang banyak itu sebagai orang yang tidak mempunyai gembala. Yesus melihat orang banyak itu sebagai sekelompok orang tanpa arah. Orang banyak itu tanpa kepala.

Tanpa kepala bukanlah hal ideal. Tindakan anarkis bisa terjadi kapan saja. sejatinya, anarkis berasal dari bahasa Latin an (tanpa) dan arkhe (kepala). Arti harfiahnya adalah tanpa kepala. Dan Yesus tidak ingin terjadi tindakan anarkis. Dan semuanya itu digerakkan oleh satu kegiatan fisik: melihat.

KITA ADALAH PEMIMPIN
Kita adalah pemimpin. Kepala keluarga memimpin keluarganya, suami memimpin istrinya, kakak memimpin adiknya, guru memimpin muridnya, atasan memimpin bawahannya, direktur memimpin karyawannya, dan presiden memimpin negaranya. Setidaknya, kita memimpin diri kita sendiri.

Sebagai pemimpin, kita tak boleh menutup mata. Setelah itu, kita perlu turun tangan berlandaskan hati tulus. Hanya dengan cara itulah kepemimpinan bisa berjalan efektif.

Semuanya itu berawal dari perhatian. Semasa hidupnya, Ibu Teresa dari Kalkuta berkata, ”Perhatian adalah awal kesucian besar. Bila Saudara belajar untuk memperhatikan kepentingan orang lain, Saudara akan makin menyerupai Kristus. Karena hati-Nya lembut, selalu memikirkan kebutuhan orang lain. Ia berkeliling sambil berbuat baik.”

Berapakah kadar perhatian kita kepada orang-orang yang kita pimpin? Jangan-jangan kita malah mengabaikan mereka! Jika demikian, nubuat Yeremia agaknya dialamatkan juga kepada kita: ”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!”

– yoel m. indrasmoro

Partai-partai telah menyerahkan daftar caleg ke KPU untuk bersaing dalam pemilu 2009. Ada muka lama, tak sedikit muka baru. Makin banyak partai yang menampilkan artis sebagai caleg. Tujuannya: memenangkan pemilu.

Mereka menganggap wajah yang dikenal luas—sering muncul di layar televisi—bisa menjaring suara. Para artis pun tersanjung karena dipercaya mampu memimpin dan berjiwa nasionalis. Mutualisme terjadi. Kloplah!

Kekuasaan memang menggiurkan karena terkandung beragam fasilitas di dalamnya. Adanya anggota DPR yang ”lompat pagar” gamblang memperlihatkan keinginan mengabadikan kuasa. Ujung-ujungnya fasilitas!

Dalam jagad kepemimpinan Indonesia, ungkapan Perancis noblesse oblige ’kewajiban bangsawan terhadap rakyat jelata’ agaknya belum menjadi prinsip. Kepemimpinan sejatinya bukan hanya soal kuasa. Pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya.

Dengan kata lain: setiap pemimpin dipanggil untuk menjadi berkat, bukan mencari berkat! Krisis kepemimpinan terjadi tatkala yang memimpin mencari—bahkan memeras—berkat dari yang dipimpin.

Kepemimpinan Musa

Kisah pemanggilan Musa (Kel. 3:1-15) memperlihatkan bahwa kepemimpinan merupakan panggilan. Musa tidak melamar—mengajukan diri—untuk menjadi pemimpin. Dia dipanggil Allah untuk memimpin Israel. Dan Musa menanggapi panggilan tersebut.

Menjadi pemimpin berarti menjawab sebuah panggilan. Karena itu, pemimpin harus bersikap dan bertindak profesional. Tak perlulah kita menyempitkan arti profesional dengan bayaran yang diterima.

Karena sadar akan panggilannya, setiap pemimpin harus mengembangkan diri agar cakap memimpin. Profesional berarti cakap di bidangnya. Kata ”profesional” sekerabat dengan ”profesor”— harfiah bermakna orang yang menyatakan imannya. Panggilan meniscayakan pemimpin menjalankan kewajiban sebagai pernyataan iman.

Pemanggilan Musa juga memperlihatkan, Allah tidak memanggil seorang penganggur untuk terlibat dalam karya-Nya. Musa dipanggil Allah ketika sedang menggembalakan kambing domba Yitro. Dia tidak sedang bertopang dagu, melainkan sibuk bekerja.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 34,286 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: