You are currently browsing the tag archive for the ‘pertobatan’ tag.

MENJADI MANUSIA
Multatuli pernah berkata, sering disitir Pramoedya Ananta Toer, ”Tugas manusia ialah menjadi manusia, bukan menjadi Malaikat atau pun setan.” Ya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Jika manusia tidak menjadi manusia, maka dia tidak memenuhi hakikatnya sebagai manusia. Jika demikian, masih layakkah menganggap diri sebagai manusia?

Menjadi manusia merupakan panggilan manusia. Menjadi manusia berarti menjalani hidup sebagai hamba Allah. Allah tidak menuntut kita menjadi malaikat, tetapi juga tidak ingin kita menjadi setan. Dia hanya ingin kita memenuhi panggilan hidup sebagai manusia. Itulah cita-cita-Nya ketika mencipta manusia. Ketika manusia tak lagi menjalani hakikat sebagai manusia, ia harus bertobat.

Itu jugalah yang dikumandangkan nabi Yesaya: ”Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya….” (Yesaya 55:6-7).

Pertobatan merupakan inti berita Yesaya. Dan berkait dengan pertobatan, saya dan Saudara termasuk golongan manusia berbahagia karena kita masih dikaruniai waktu.

Kita bagai pohon ara yang diberi kesempatan hidup, yang dibela oleh Sang Pengurus. Tetapi, kesempatan itu pun terbatas. Berbahagialah karena kita belum sampai pada masa tenggat itu! Masih ada waktu untuk bertobat. Jika tidak, kita pun akan ditebang!

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Harus bersedia menghasilkan buah-buah pertobatan!
Dalam perjumpaannya dengan berbagai lapisan masyarakat yang minta dibaptiskan, Yohanes menekankan bahkan menuntut pertobatan dari mereka. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sebagai gereja Tuhan kita tidak boleh “jual murah” baptisan kudus, kepada orang-orang yang mau bergabung dalam komunitas kita. Kesungguhan hati serta kualitas iman para anggota gereja harus selalu kita utamakan.

Yohanes Pembaptis menuntut buah- buah pertobatan, atau kesediaan berubah secara nyata dalam kehidupan orang-orang yang menyerahkan diri untuk dibaptiskan itu. Di sini kita melihat bahwa kehidupan moral berhubungan erat dengan kehidupan iman. Memang benar bahwa orang yang moralnya baik bukan jaminan beroleh selamat, tetapi orang yang diselamatkan Tuhan seharusnya menghasilkan kehidupan moral yang indah sebagai pengucapan syukur serta kesaksian bagi masyarakat di sekitarnya.

Ada seorang pelancong di Cina yang bertanya kepada seorang penduduk setempat apakah dia pernah membaca Injil. “Tidak” jawab orang itu, “tetapi saya pernah melihatnya! Saya melihat seorang pria yang memiliki perangai yang sangat buruk. Dia menjadi teroris bagi tetangganya. Ucapannya kasar. Dia pun seorang yang mengisap candu. Kriminal. Dia adalah binatang buas bagi sesamanya. Tetapi ajaran Yesus membuatnya menjadi pria yang lembut dan baik hati dan dia juga tidak mengisap candu lagi. Saya memang belum pernah membaca Injil, tetapi saya telah melihatnya. Dan Injil itu baik.” (Alliance Weekly)

Yohanes Pembaptis yang menjunjung tinggi Yesus
Dia telah membuang jauh-jauh peluang untuk dikagumi dan dimuliakan oleh banyak orang. Ia juga telah menepis segala dugaan bahwa dia itulah sang Mesias yang sudah lama dinanti- nantikan umat Allah. Dengan segala ketulusan hati Yohanes telah merendahkan dirinya dan baptisannya lalu meninggikan Yesus Kristus, baptisan dan karya-Nya!

Sejiwa dengan tema renungan ini maka Yohanes telah menunjuk Yesus sebagai sang Penampi Agung yang harus diperhitungkan oleh setiap orang, sebab Ia akan mengadakan penyaringan secara besar-besaran! Disebut-sebut adanya pembersihan tempat, pengumpulan gandum, bahkan pembakaran dalam api yang tidak terpadamkan! Semua itu pasti berhubungan erat dengan orang berdosa yang tidak mau bertobat, atau sikap hidup kita di dunia ini menjelang kedatangan Tuhan.

Kelemahan kita adalah bersikap terlalu longgar terhadap pelanggaran dan dosa kita sendiri. Kita sangat pemaaf  kepada diri sendiri. Sudah begitu, bisa ditambahkan: Bersikap keras dan bahkan menekan orang-orang lain. Kita juga sangat longgar terhadap masa hidup kita, selalu memandang bahwa masa depan kita masih panjang. Orang-orang muda sering merasa geli melihat para lanjut usia yang masih begitu sibuk dan repot dengan hal-hal yang tidak perlu seolah mereka masih akan hidup lama di dunia ini. Tapi jika tiba gilirannya, yaitu jika muda-mudi itu sendiri kelak sudah lanjut usia, ya sama saja akan bersikap bodoh seperti kakek-neneknya dulu. Kita lupa bahwa Tuhan akan “segera” datang atau sebaliknya kita yang harus datang kepada-Nya.

– daud adiprasetya

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 34,286 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: