KAMPANYE DAN UANG

Beberapa hari yang lalu kampanye untuk pemilihan anggota legislatif Negara ini dimulai. Dibanyak daerah digelar kampanye damai bahkan ada yang diisi dengan doa bersama. Tapi niat baik ini juga diwarnai dengan beberapa hal kurang baik dengan memanfaatkan keadaan. Sah-sah saja memang mencari suara terbanyak dari rakyat Negara ini yang memang harus menentukan siapa wakil terbaik dan layak untuk duduk di kursi dewan mewakili mereka duduk  dewan terhormat.

Promosi mulai dari iklan di media elektronik, media cetak,  baliho di jalanan, poster dan banyak lagi media yang digunakan untuk menarik perhatian massa. Belum lagi mengumpulkan massa yang ratusan bahkan ribuan dengan segala macam iming-iming acara dan hadiah. Ada lagi terobosan yang dibuat para calon wakil rakyat itu untuk menarik simpati. Beberapa hari lalu aku nonton reality show disalah satu saluran tivi yang menyajikan adegan para calon anggota dewan itu “turba” ke perkampungan rakyat dengan memberikan “hadiah” dan janji.  Kalau dihitung dengan angka, biaya yang dikeluarkan sangatlah banyak – bukan banyak lagi!! Kalau untuk beli dawet, mungkin bisa se-danau kali ya untuk berenang!!

Mirisnya, saat para calon anggota dewan yang terhormat sedang membuang uang; disisi lain rakyat negeri ini banyak yang kekurangan uang. Jumlahnya makin meningkat dengan adanya krisis global ini. PHK dimana-mana, anak kurang gizi bertambah, yang putus sekolah juga meningkat, jumlah orang sakit tapi tidak mampu berobat semakin banyak. Dan alasan dari semua itu adalah UANG!

Seandainya dengan rela hati para calon pembesar negeri itu mengalihkan uang untuk kampanye itu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka lapangan kerja baru, memberikan pengobatan murah, pendidikan gratis; pastinya negeri ini akan menjadi lebih baik. Tingkat kriminalitas akibat pemenuhan kebutuhan hidup akan berkurang, pendidikan dan masa depan anak bangsa akan lebih terarah. Karena alasan dari keadaan yang tidak sesuai impian ini adalah keterbatasan UANG.

Hari ini headline di salah satu media cetak menampilkan gambar warga yang berebut untuk mencairkan dana Bantuan Tunai Langsung. Begitu berartinya dana segar sebesar RP. 200,000,-  untuk banyak orang yang menerimanya. Mungkin ada yang akan membeli beras atau membayar uang sekolah anaknya dengan uang itu.

Tetapi bagi para calon pembesar negeri ini, jumlah itu mungkin tak ada artinya untuk biaya kampanye yang sebegitu besar. Kembali lagi semua tergantung cara pandang kita terhadap UANG.

Bagaimana jika pemilu mendatang tidak ada lagi kampanye yang menghamburkan uang dan dananya dialokasikan untuk pembangunan desa tertinggal, pengadaan lapangan kerja bagi anak negeri, pemberian beasiswa untuk anak-anak tidak mampu, pengobatan murah?? Apakah para calon pembesar itu takut kehilangan daya tariknya??? Apakah mereka takut jika “modal” yang telah dikeluarkan tidak balik ke kantong sebagai untung??

Padahal jika aksi nyata yang diberikan pada bangsa dan anak masa depan bangsa ini adalah sumbangsih tulus dan tanpa embel-embel apapun, rasanya anak bangsa ini tahu diri dan akan memberikan suaranya tanpa iming-iming apapun. Pencontrengan kertas suara yang jujur!! Seandainya kampanye ini bersih dari uang-uang siluman dan rayuan gombal pastinya pemilihan calon anggota dewan itu akan menjadi benar-benar terhormat.

Jadi kapan kampanye yang tidak buang-buang uang itu akan terlaksana di negeri ini? Walahualam!

– lelyana yudha