You are currently browsing the category archive for the ‘Koyakkan Hatimu dan Jangan Pakaianmu!’ category.

Bukan Tanpa Alasan

Pengoyakan hati bukanlah tanpa dasar! Pengakuan dosa bukanlah tanpa alasan. Pertama: manusia memang debu dan abu. Manusia adalah makhluk lemah, ringkih, dan rentan.

Kisah Adam dan Hawa merupakan kisah kita juga. Kadang, sebagaimana Adam dan Hawa kita terpikat untuk melakukan apa yang kita pikir dan kita rasa benar. Apa salahnya tahu yang baik dan jahat! Bukankah itu akan membuat kita menjadi lebih bijak? Apa salahnya menjadi bijak? Apa salahnya berpengetahuan? Ya, memang tidak ada salahnya! Tetapi, masalah manusia pertama ialah mereka melanggar kesepakatan bersama.

Inilah salah satu bukti keabuan manusia. Kita sering bertindak menurut apa yang kita rasa dan pikir benar, yang bisa membawa pada pelanggaran. Pengandalan akal dan rasa kadang membuat kita lupa bahwa akal budi adalah karunia Tuhan. Lebih gawat lagi, jika manusia akhirnya merasa lebih pandai dan lebih peka ketimbang Tuhan.

Atau, ada yang beranggapan bahwa Tuhan pastilah memaklumi kesalahan manusia. Pemahaman macam begini kadang menjadi dasar untuk berbuat sesuka hati. Ini juga merupakan sesat pikir dan sesat rasa! Pandangan itu berujung pada meremehtemehkan Tuhan. Aneh rasanya, kita sengaja berbuat salah karena tahu Tuhan itu pengasih. Bukankah ini pula bukti keringkihan kita selaku manusia? Kedua: Allah ingin berdamai dengan manusia. Allah ingin bersekutu kembali dengan manusia. Tak heran jika Paulus berkata: ”Terimalah uluran tangan Allah yang memungkinkan kalian berbaik dengan Dia.” (II Korintus 5:20b, BIMK)

Inilah kebenaran yang seharusnya memampukan kita mengoyakkan hati! Pengakuan dosa hanya akan terjadi kala orang sadar bahwa Allah bersedia menerima dirinya tanpa syarat. Banyak orang tak yakin adanya pengampunan sehingga mereka enggan mengakui dosanya. Jika tak ada kepastian pengampunan dosa, buat apa pula kita mengaku dosa?

Allah telah terlebih dahulu mengulurkan tangan-Nya. Persoalannya: apakah manusia mau pula mengulurkan tangannya? Jika manusia mau mengulurkan tangannya, maka manusia dan Allah bergandengan tangan. Itulah persekutuan sejati!

Dan itu dimulai kala kita mengoyakkan hati—dan bukan pakaian kita—secara tulus, sepi ing pamrih. Ya, tulus, tanpa basa-basi!

– yoel m. indrasmoro

Renungan Rabu Abu 2009

”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” (Yoel 2:13). Demikianlah intisari seruan nabi Yoel kepada umat Israel, yang kembali digemakan Gereja pada Rabu Abu, 25 Februari 2009.

Di Israel mengoyakkan pakaian merupakan tanda kabung, yang menyiratkan pengakuan dosa. Itu bukan perkara gampang. Mengoyak berarti mencabik, merobek, dan membuat pakaian menjadi compang-camping. Relakah kita melakukannya?

Bagaimanapun, banyak orang senang—dan itu wajar—mengenakan pakaian yang bersih, rapi, bahkan licin. Pada titik ini pengoyakkan pakaian merupakan hal yang patut dipuji.

Bukan Ajang Pamer

Namun, Yoel mengingatkan umat agar tidak hanya bertumpu pada yang tampak. Apalagi, jika pengoyakkan pakaian itu malah menjadi ajang pamer kesalehan. Inilah bahaya tindakan kasat mata. Lebih berbahaya, kalau pengakuan dosa malah menjadi proyek. Karena itu, nabi menasihatkan umat untuk mengoyakkan hati.

Pengoyakan hati tentu lebih sulit. Pakaian lebih gampang dikoyakkan karena berada di luar tubuh. Bagaimana dengan hati yang bersifat abstrak dan berada di dalam tubuh? Lalu, apa bukti bahwa seseorang telah mengoyak hatinya? Siapa pula yang menjamin bahwa hati itu telah terkoyak?

Terkait dengan hati yang terkoyak, hanya dua pribadi yang sungguh tahu: diri sendiri dan Allah. Manusia tidak mungkin membohongi diri sendiri. Dan Allah, menurut Daud, ”berkenan akan kebenaran dalam batin” (Mazmur 51:8). Allah menuntut ketulusan.

Senada dengan nabi Yoel, kepada para murid-Nya, Yesus pun berujar: ”Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Matius 6:1). Motivasi seseorang menjadi hal krusial di sini. Mereka tidak dilarang menjalani kewajiban agama, tetapi apa motif di balik tindakan menjadi sangat penting dan bermakna.

Dalam ibadah Rabu Abu, umat mendapatkan olesan abu di dahinya. Pengolesan abu itu pun sepatutnya tidak menjadi ajang pamer kesalehan. Setiap orang yang menerima olesan abu seyogianya telah mengoyakkan hatinya.

Jadi, dengan menggunakan terminologi nabi Yoel, bukan mengoyakkan pakaian dahulu baru mengoyakkan hati. Namun, pengoyakkan hati itulah yang memampukan kita mengoyakkan pakaian. Pengoyakan pakaian hanyalah lambang. Dengan kata lain, pengoyakkan hati itulah yang mendorong kita menerima olesan abu sebagai lambang pengoyakkan hati!

Yang juga perlu diingat, meski berada di dalam tubuh—tidak terlihat oleh manusia lain—pengakuan dosa merupakan tindakan aktif. Kata kerja yang dipakai bukanlah kata kerja pasif, tetapi melainkan kata kerja aktif; ”koyakkan” dan bukan ”dikoyakkan”. Pengakuan dosa merupakan niat diri, bukan karena terpaksa.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.612 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 33,903 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: