You are currently browsing the tag archive for the ‘datanglahKerajaan-MU’ tag.

Bukan Pilihan, Bukan Pilahan

Gereja harus menjawab persoalan dunia. Itulah alasan utama Allah mengutus Gereja-Nya!

Gereja, mengutip bait kedua lagu tadi, dipanggil untuk ”memerangi gelap kemiskinan” dan ”menyinarkan terang keadilan”. Gereja tidak boleh bertopang dagu.

Sebagai manusia yang telah diperkaya, Gereja dipanggil untuk memerangi kemiskinan dengan jalan memperkaya orang lain. Memperkaya orang lain berarti Gereja tak berhak mengangkangi karunia Allah. Karunia perlu dibagikan agar makin banyak orang merasakannya.

Dan memperkaya orang lain hanya mungkin berdasarkan keadilan. Gereja harus bersikap dan bertindak adil. Keadilan, mengutip Pramoedya Ananta Toer, dimulai dari pikiran.

Lahan pelayanan Gereja bukanlah di dalam Gereja, tetapi—lagi-lagi mengutip lagu di atas—”di lautan, di gunung, di ladang, di bandar, di pasar, di jalan”. Gereja tak boleh memilih dan memilah lahan. Lahan pelayanan Gereja adalah semua hal di luar dirinya.

Semua itu berawal dari diri sendiri, ”dalam hati dan mulut dan tangan.” Sang penggubah sengaja menggunakan penghubung ”dan”. Hati, mulut, tangan bukan pilihan, juga bukan pilahan!

Itu berarti: omongan terpancar dari hati yang berbuah dalam perbuatan. Tak bisa cuma di hati! Tak bisa pula hanya di mulut! Orang hanya bisa merasakan perbuatan. Dan semuanya berdasarkan ”kasih dan kebenaran”!

Kasih bukanlah kasihan. Oleh karena itu, kasih tak boleh menyingkirkan kebenaran! Kasih dan kebenaran harus menjadi dasar kita dalam memperkaya orang lain. Pada titik ini sejatinya kita tengah menyatakan kepada dunia bahwa kita adalah hamba Allah.

Itu jugalah yang dinyatakan Paulus kepada jemaat di Roma, agar mereka dapat mengerti dan menjalani kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Rm. 12:2).

Dengan kata lain, dalam memperkaya orang lain kita perlu memperhitungkan: baik-jahat, benar-salah, tepat-tidak tepat! Ketiganya juga bukan pilihan maupun pilahan. Kita harus dapat menyerasikan ketiganya: apa yang baik menurut Allah, apa yang diperkenankan Allah, dan apakah itu sempurna di mata Allah.

Semuanya itu hanyalah wujud pengakuan iman, sekaligus harapan, yang kita serukan berulang-ulang bak refrein: ”Datanglah Kerajaan-Mu!”

– yoel m. indrasmoro

Iklan

Sebab, apa artinya Gereja kalau tidak bersatu? Bukankah Gereja merupakan persekutuan manusia baru? Bila tiada keinginan menyatu, masih layakkah disebut manusia baru? Lagi pula, Gereja diutus ke dunia. Jika Gereja malah gontok-gontokan, efektifkah pengutusannya?

Dunia yang rusuh butuh teladan. Gereja bisa menjadi teladan jika dan hanya jika bersatu. Tentulah tak cuma kesatuan fisik, yang kasat mata, juga kesatuan rohani.

Kesatuan rohani sebagai bangsa perlu ditumbuhkan karena di situlah akar masalahnya. Korupsi di bidang apa pun bersumber dari rohani manusia berdasarkan hubungan dengan Khaliknya.

Baik dalam dunia yang rusuh maupun Gereja yang rukun, kita memohon: ”Datanglah Kerajaan-Mu!” Perhatikan ”Mu” yang digunakan! Kerusuhan dan permusuhan mencuat kala seseorang (”mu”) berusaha menaklukkan sesama dan mendirikan kerajaan sendiri.

Oleh karena itu, manusia perlu kembali ke fitrahnya sebagai abdullah, hamba Allah. Ketika Allah menjadi raja, manusia tak perlu saling mengalahkan. Sebaliknya, saling melayani yang membuahkan harmoni.

Kerajaan Allah mencakup ranah sekuler maupun rohani. Sangat tak masuk akal membatasi atau melokalisasi Allah pada suatu wilayah. Misalnya: Allah hanya boleh di Gereja, dan menolak Dia mencampuri urusan kita.

Atau, manusia melokalisasi Allah pada waktu tertentu. Hari Minggu—sesuai namanya yang berarti hari Tuhan—berada dalam wilayah kedaulatan Allah, sedang hari lainnya di bawah penguasaan manusia. Hal ini sama absurdnya.

Tak mungkin mengerangkeng Allah dalam dimensi ruang dan waktu. Sebab, Dialah pencipta keduanya. Allahlah Raja yang menguasai baik ruang maupun waktu.

– yoel m. indrasmoro

(bersambung)

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.611 pengikut lainnya

Ayooo ikut Tulis… :)

Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.

Blog Stats

  • 34,835 hits

Arsip

%d blogger menyukai ini: