Senang berjumpa denganmu.

Silakan menikmati karya tulis dari halaman ke halaman.  Ada Tips menulis, kamu bisa mulai menerapkannya dan mulai Tulis… Silakan bertanya di Bincang tentang apa saja sekitar menulis, mengedit, … Teman-teman editor dan penulis yang lain, dengan senang hati akan menanggapinya.

Jangan ragu untuk mengirimkan hasil tulisanmu ke admintulistulistulis@gmail.com meski itu tulisan pertamamu yang masih perlu ditulis ulang, itu salah satu tujuan halaman-halaman ini disediakan. Hasil tulisanmu akan dimuat di halaman Tulistulis, dan bila kamu ingin mendapat pendampingan seorang editor senior maka akan dilayani di halaman Asuh.  Komentarmu yang menyemangati Penulis dihargai.

Kunjungi  dua halaman baru,  selamat berjumpa

di Asuh 2 dengan Jeremia Ade Tjandra dan Syarif Oppusunggu,

 juga dengan Marim Purba dan Yahya Djuanda di Tulistulis 8,

silakan ikut bergabung dengan komentar dan pertanyaan ya!

Ayo, semangat menulis! :)

adminTulis…

Daud Adiprasetya, Yoel M. Indrasmoro, Syarif Oppusunggu, Eva Kristiaman

Pada akhir abad ke-19, lahir dan muncul pelukis-pelukis maestro pada zaman tersebut, seperti Pierre A. Renoir, Henry Mattisee, ataupun Pablo Piccaso. Pada saat itu masyarakat di Barat sedemikian mengagumi dan menghargai hasil karya indah para pelukis.

Emmanual Ninger, seorang pelukis imigran asal Jerman yang merantau sampai ke Hoboken, New Jersey. Ninger mengelabui para tetangganya dengan mengarang cerita bahwa kekayaan yang ia milki sekarang berasal dari hasil pensiun sewaktu menjadi tentara di negaranya. Ia kemudian menjadi orang yang terpandang di lingkungannya karena tergolong kaya pada zamannya. Salah satu kebiasaannya adalah mengunjungi tempat minum yang ada di kota tersebut. Sang pemilik sangat menghormati dan mengagumi Mr. Ninger.

Pada suatu hari, sang pemilik tampak sibuk membersihkan tempatnya, dan pada saat yang bersamaan Mr. Ninger membayar minumannya sebelum beranjak meninggalkan tempat itu. Namun setelah menerima lembaran pecahan 20 dolar dengan tangan yang basah, sang pemilik bar itu melihat sesuatu yang aneh dari lembaran uang dolar tersebut. Uang tersebut terlihat luntur ketika dipegang oleh jarinya yang basah. Ia merasa semakin aneh karena di jari-jarinya tertinggal tinta dari lembaran uang itu. Ia sangat yakin bahwa uang itu adalah uang asli apalagi yang memberikan kepadanya adalah seorang yang terpandang.  Karena tetap saja curiga dan penasaran, akhirnya ia melaporkan hasil penemuannya kepada polisi.

Setelah mendapatkan surat perintah, polisi segera mendatangi rumah Mr. Ninger. Polisi menemukan hal yang luar biasa, di bagian atas langit-langit rumahnya ditemukan ruangan tersembunyi, di dalamnya banyak lembaran-lembaran uang palsu baik yang telah diselesaikan maupun yang sedang dalam proses pengerjaan. Kepiawaian Mr.Ninger melukis uang dolar tidak dapat diragukan sebagai hasil karya dari seorang artis yang sempurna.

Emmanual Ninger yang juga mendapat julukan “Jim the Penman” ternyata adalah seorang ahli pengganda uang palsu yang akhirnya diringkus pada tahun 1896. Beserta uang-uang palsu disita pula tiga lukisan potret diri Mr.Ninger. Setelah penangkapannya, tiga lukisan potret dirinya dilelang dan mampu menghasilkan penjualan 5,000 dolar lebih untuk setiap lukisan. Dan cerita yang paling tragis adalah waktu yang dibutuhkan untuk melukis selembar uang dolar tiruan sama lamanya dengan waktu yang dibutuhkan untuk melukis selembar potret dirinya. Emmanual Ninger dikenang sebagai pelukis yang mencuri arti kesuksesan yang terdalam dari dirinya.

-Success Journey

Sulit Dimengerti. Mengapa Mr. Ninger lebih memilih berjerih lelah untuk melakukan pelanggaran hukum terhadap negara,  padahal dia memiliki kesempatan dan kemampuan, untuk meraup penghasilan besar yang halal, bermutu tinggi dan terhormat. Bukankah perbuatan Mr. Ninger tadi mengingatkan kita kepada orang-orang yang menjalankan hidup keagamaan, disertai kepatuhan yang luar biasa, sampai dirasakan sebagai beban yang berat, namun tidak dihargai oleh Tuhan.  Sementara itu Tuhan lebih berkenan kepada para penyembah sejati yang melakukan ibadahnya dengan segala ketulusan hati dan sukacita.

- daud adiprasetya

lanjut…

A Fellowship of Friends: The Christian Writer Group.

Oleh: Eva Kristiaman dari Indonesia

Hai Teman-Teman Indonesia-ku yang kukasihi,

Aku menulis surat ini karena tampaknya kamu begitu sibuk di dapur, dan tak seorang pun mendengar  ketukan “Tok, Tok”-ku di pintumu.

Aku ingin memberi tahu bahwa aku sangat ingin untuk masuk dan bersantap bersamamu. Aku tahu kamu sangat mengasihiku, dan sedang menyiapkan masakan Indonesia terbaik bagiku. Betul, aku sangat menggemari masakan Indonesia, sangat sedap dan lezat . Menurutku, hingga kini kamu terlalu sibuk mengurusi soal masakannya. Yang terutama buatku adalah relasi yang akrab denganmu. Aku senang bila bisa bercakap-cakap sambil sarapan denganmu tiap pagi.

Jadi, permisi, bolehkah aku masuk? … Tolong buka pintunya, persilakan aku masuk dan tinggal bersamamu. Ijinkan aku melayanimu, aku tuan rumahnya dan kamu tamuku.  Nikmati waktu yang menyenangkan bersamaku, kenallah diriku semakin baik dan semakin dekat. Semakin kamu mengenalku, semakin banyak pemandangan mendalam yang kamu peroleh. Itu akan membuka pikiranmu dan membuka matamu.

Aku tahu hingga kini kamu hafal bahwa “Manusia tidak hidup dari nasi saja, melainkan dari setiap kata yang diucapkan Allah.” Ya, kamu akan menikmati bagaimana menemukan kebenaran. Itu lebih manis dari madu terbaik di Indonesia. Kamu akan amat menggemari masakanku. Kamu akan minum dari air hidup yang kuberikan kepadamu, dan kamu takkan pernah haus lagi.

Aku sangat ingin jadi Sahabat karibmu. Supaya, di hari terakhir nanti aku dapat menyatakan bahwa “Aku kenal kamu.”

Salam kasih,

Yesus

* Diterjemahkan seijin Media Assosiates International, dari naskah lomba menulis LittWorld 2012, dengan judul asli “May I come in, please…”, yang menerima Runner up honorable mention prize pada tanggal 1 Agustus 2012.

* Naskah ini menjawab salah satu pertanyaan lomba menulis LittWorld 2012: If Jesus were to write a letter to the church in your country, what would He say?—Bila Yesus menulis surat kepada gereja di negaramu, apa yang akan Dia katakan?

 

Saya pernah mendengar kisah tentang seorang  pendeta (dari kota Solo) yang bicaranya gagap dalam percakapan sehari-harinya, tetapi pada saat menyampaikan Firman Tuhan  justru bisa lancar tanpa gangguan.

Di Malang ada seorang ibu yang bersaksi bahwa ke mana-mana selalu pakai baju hangat, karena takut terhadap angin. Tetapi sesudah menerima panggilan menjadi anggota Majelis Jemaat (dulu Diaken), tubuhnya semakin kuat karena banyak melakukan pelawatan jemaat, sehingga sudah tidak pernah lagi memakai baju hangat.

Jangan terkecoh oleh kesaksian-kesaksian seperti itu, sebab ada kalanya tidak demikian, bahkan sebaliknya yang terjadi. Itu merupakan misteri, tapi satu hal yang pasti bahwa setiap hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang setia selalu mengalami kepuasan batiniah, sebab hidupnya menjadi semakin bermakna.

Oleh karena itu hati-hati menjaga tubuh.

Tuhan saja begitu menopang kesehatan dan keselamatan  kita, termasuk tubuh kita tentunya, maka sudah selayaknya kita juga seirama dengan Tuhan. Ada saja orang-orang yang menelantarkan tubuh dan jiwanya dengan percabulan, serta berbagai kebiasaan lain yang sangat merugikan. Mereka lupa bahwa dalam hidup ini kita dapat melakukan banyak hal yang berguna dan bermakna dengan tubuh kita, sehingga Tuhan menjadikannya bait Roh Kudus. Kalau begitu setiap orang sebenarnya mendapatkan panggilan Tuhan untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya, dan terus berkarya demi kasihnya kepada Tuhan dan sesama. Kapan lagi kalau tidak sekarang. Siapa lagi kalau bukan Anda dan saya.

Panggilan demi panggilan harus terus bergulir.

Jangan lupa bahwa Kristus yang telah bangkit itu juga ingin mengajak kita mengalami kebangkitan di dalam hidup kita masing-masing. Sebab apakah artinya kebangkitan Kristus yang dahsyat itu, jika tidak sampai bisa menular kepada kita. Apakah Anda dan saya merasa menjadi bagian dari Tubuh-Nya? Kalau ya, maka marilah secara nyata kita menunjukkan kesamaannya. Kalau begitu Kristus yang sudah terima panggilan dari Bapa untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya, memanggil kita sekarang untuk menjadi kepanjangan tangan-Nya meraih orang-orang di sekitar hidup kita. Dan semoga mereka bersedia kita ajak melakukan estafet panggilan Tuhan. Bukankah  kita sudah dibeli dengan lunas, maka muliakanlah Allah dengan tubuh kita.

“Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” Mazmur 139:17

Menganalisis keterlibatan di dalam karya Tuhan hanya membuat kita terkagum-kagum tak habis pikir, itu karena keterbatasan kita. Namun semua yang kita alami ini adalah fakta, bukan khayal semata.

Kalau begitu mari kita nikmati segala pesona, sensasi, surprise, bonus, serta aneka ragam kebaikan Tuhan di sepanjang hidup ini. Jika kita mau menjadi hamba-Nya yang mudah terheran-heran melihat kebesaran-Nya, maka Dia senang akan ketulusan dan keluguan kita, lalu menghadirkan banyak hal lain yang lebih mengherankan!

-daud adiprasetya

Pada umumnya panggilan Tuhan merupakan surprise, kejutan baik bagi yang bersangkutan maupun orang-orang di sekitarnya. Hal itu menunjukkan ketidaklayakan manusia, dan kebesaran Tuhan. Jika seseorang merasa layak menerima panggilan Tuhan, tidak lagi merasa terharu dan bersyukur, berarti dia sudah mulai memandang rendah Tuhan dan menganggap Tuhan membutuhkan tenaganya, dan berhutang kepadanya.

Mengapa panggilan Samuel begitu memikat hati kita?

Karena waktu menerima panggilan Tuhan dikatakan bahwa Samuel masih muda dan kedudukannya sebagai pelayan. Ini adalah dua hal yang sangat  tidak lazim secara manusiawi. Tapi para rasul Tuhan Yesus juga diangkat dari kedudukan rendah, mereka hanya para nelayan, bahkan ada yang menjadi pemungut cukai. Di kemudian hari tampil Saulus yang justru memusuhi Yesus. Jadi dalam panggilan Tuhan, yang memikat hati bukan sang manusia tapi Tuhan sendiri. Keberadaan Samuel diam-diam juga merupakan cara Tuhan mengkritik Eli serta anak-anaknya yang tak layak menjadi keluarga Imam. Masih jauh lebih baik Samuel meski hanya seorang pelayan yang tak punya derajat yang memadai.

Sejauh mana kisah panggilan Samuel menyentuh hati kaum muda kita zaman sekarang? 

Kita memang sudah selalu melihat sejumlah (besar) kaum muda yang melayani berbagai kegiatan gerejawi. Tetapi yang tergerak hatinya untuk menjadi seorang pendeta, rasa-rasanya sangat kurang. Padahal banyak jemaat Tuhan yang saat ini tak memiliki pendeta. Apapun alasannya, keadaan itu sesungguhnya sangat memperihatinkan. Pasti ada yang tidak beres di sini, sebab saya yakin jika masih sangat dibutuhkan adanya para Hamba Tuhan maka Tuhan pasti tak henti-hentinya memanggil “para Samuel” zaman sekarang. Jemaat harus semakin peka, para orang tua juga, tapi terutama kaum mudanya. Jangan sampai panggilan penting dari Tuhan Yang Mulia, untuk ladang-Nya yang sudah menguning kita abaikan dari waktu ke waktu.

Siapakah Yesus bagi hamba yang dipanggil olehNya?

Pertama, setiap orang yang dipilih dan dipanggil oleh Tuhan Yesus menjadi murid-Nya, merasa sangat terkesan dan terpesona. Sebab Yesus memanggil dengan kewibawaan ilahi, kata-kata yang diucapkan-Nya penuh kemantapan. Setiap orang merasa sedang berhadapan dengan Tuhan sendiri.

Yang seperti ini selalu perlu dirasakan oleh setiap orang beriman zaman sekarang, saat menghadapi panggilan untuk melakukan pelayanan khusus. Filipus merasa sudah berjumpa dengan Dia yang disebut Musa dalam Kitab Taurat dan para nabi. Natanael tergetar ketika Yesus mengetahui keberadaannya. Itu berarti, dan dapat dipastikan bahwa setiap orang akan mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan dengan Yesus saat ini, sehubungan  panggilan-Nya sebagai  pekerja Tuhan.

Kedua, panggilan Tuhan Yesus tidak pernah sekedar formalitas, tidak pernah hanya memberi kita “embel-embel” atau sekedar jabatan tertentu, untuk menaikkan derajat kita. Tetapi selalu disertai tugas dan tanggung jawab. Sebagaimana panggilan itu penuh kesungguhan maka menjalankannya juga tidak boleh sesuka hati.

Ketiga, biasanya Tuhan Yesus menjanjikan nilai plus, misalnya “Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” Markus 1:17.  “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar  dari pada itu.” Yohanes 1:50. Perlu untuk diketahui bahwa setiap janji Tuhan pasti akan dipenuhi, sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji. Mengapa hamba atau pelayan yang dipanggil-Nya memperoleh nilai plus dalam hidupnya, sesudah menjalankan panggilan Tuhan? Hal Itu menunjukkan bahwa kalau Tuhan memanggil maka Ia memperlengkapi hamba-Nya. Jadi nilai plus yang dianugerahkan sangat erat hubungannya dengan tugas atau pelayanannya.

-daud adiprasetya

lanjut…

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 2.318 pengikut lainnya.

Ayooo ikut Tulis… :)

  • "@solihinbenny: Kesederhanaan hidup adalah udara segar yang selalu membuat paru-paru kita menjadi ringan.":) tulistulistulis ... ayo tulis 1 day ago
  • Hidupku berada dalam tangan-Nya, dan Dia menjaga kakiku dari tersandung. Our lives are in his hands, n he keeps our feet from stumbling.:) tulistulistulis ... ayo tulis 1 day ago
  • Those who live at the ends of the earth stand in awe of your wonders. From where the sun rises to where it sets, you inspire shouts of joy.:) tulistulistulis ... ayo tulis 2 days ago
  • "@Spurgeon_: Nothing teaches us about the preciousness of the Creator as much as when we learn the emptiness of everything else - Spurgeon":) tulistulistulis ... ayo tulis 2 days ago
  • Kala kita hingga kini didamaikan--bisa bersikap tepat thd Allah, & bersekutu dengan-Nya, segalanya berubah & sukacita mendiami hidup kita.:) tulistulistulis ... ayo tulis 2 days ago

Blog Stats

  • 17,752 hits

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.318 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: